Seperti yang sudah kita tahu bersama, bahwa kita ini sudah belajar bahasa inggris semenjak SMP sampai SMA dan ditambah lagi dengan tiga sks wajib saat kuliah. Dengan menghabiskan waktu tujuh tahun lebih, kenapa masih saja bahasa inggris menjadi momok bagi saya saat mendaftar sebuah beasiswa?
Sebuah pertanyaan yang menggelitik untuk membuka posting saya selanjutnya tentang proses mempersiapkan diri melamar beasiswa CCIP. Posting ini akan bercerita tentang pengalaman saya “kejar setoran” belajar bahasa inggris untuk mendongkrak nilai TOEFL saya dalam dua bulan. Oh ya, supaya anda tidak bingung dalam mengikuti post ini silahkan baca juga artikel saya yang lain di blog ini, terutama artikel “Bahasa Inggis + Beasiswa + Kojack” dan “Kojack Mempersiapkan Syarat Administrasi”
Seperti yang saya bilang, petualangan mengejar beasiswa saya dimulai dengan sebuah “keisengan” untuk mengikuti test TOEFL prediction murah yang di bundle dengan seminar AMINEF di IPB. Waktu itu saya sendiri kurang nggeh apa itu AMINEF, jadi niat saya ikut seminar itu hanyalah ikut tes TOEFL prediction (red : tiketnya Rp. 20.000,-, murah kan?) untuk mengetahui kemampuan bahasa inggris saya tanpa belajar.
Saya masih ingat try out itu dibuka dengan berapi – api dan hangat oleh dua pembawa acara yang sepertinya masih mahasiswa juga. Semangat yang cukup kontras dengan dinginnya suhu ruangan yang gila – gilaan dan satu jam molornya waktu mulainya acara dari jadwal aslinya. Mahasiswa dan mahasiswi itu tampak klimis dengan setelan formal yang serba matching, ditambah dengan gaya dandanan yang tampaknya sangat “terurus”, potongan rambut yang rapi dan gaya, serta senyum khas tuntutan pekerjaan tanpa dibayarnya itu yang selalu terkembang pada semua orang.
Acara dilanjutkan dengan sesi membosankan oleh seorang bapak gendut yang menjelaskan tentang TOEFL dengan gaya sales peralatan rumah tangga. Suhu yang dingin akibat AC yang terlalu kencang, ceramah membosankan yang didramatisir layaknya dongeng anak – anak ditambah posisi duduk saya yang kebetulan ada di belakang engan sukses mengantarkan saya pada sebuah kondisi yang sering disebut sebagai ngantuk yang tak tertangguhkan. Satu hal yang sempat menarik minat saya adalah bagaimana bapak itu mampu mengkonversi nilai TOEFL Prediction jualannya dan nilai TOEIC menjadi kemungkinan nilai TOEFL-ITP dengan persamaan matematika canggih yang namanya “persamaan saya rasa…”. Benar – benar presentasi yang canggih luar biasa di depan para mahasiswa yang katanya adalah “intelektual muda berotak encer”. Hebat bukan buatan bapak itu.
Dengan terkantuk – kantuk, sayup – sayup saya mendengar bapak itu menyudahi gaya presentasi sales peralatan rumah tangganya dan mulai berubah gaya menjadi sales produk Multi Level Marketing yang mulai menawarkan mimpi – mimpi yang bisa diraih oleh prospeknya jika “join” (red : kenapa ga “bergabung” aja? Karena “join” terdengar lebih renyah dan import. Bukannya bisnis ini adalah bisnis pencitraan?) dengan “waralaba”-nya. Bagi saya sich, perubahan gaya ini berarti menandakan bahwa presentasi ini akan segera selesai dan waktunya pindah ke sesi berikutnya.
Sesi berikutnya adalah presentasi tentang AMINEF. Seorang wanita setengah baya maju untuk berpresentasi. Perbedaan dari presentasi sebelumnya adalah ibu ini terlihat sangat terdidik dari cara dia menyampaikan presentasi yang mirip dengan cara dosen mengajar di kelas. Persamaan dari presentasi sebelumnya adalah saya tetap ngantuk.
Ibu ini menjelaskan secara garis besar bagaimana berkuliah di US dengan biaya sendiri (red : saya tidak tertarik dengan bab ini karena saya tidak punya uang yang cukup) serta beasiswa Fulbright yang tersedia untuk indonesia (red : yang ini saya tertarik). Kali ini dengan mata lebih segar saya bisa menyimak ibu ini mengakhiri presentasinya dan ini berarti acara berpindah ke sesi yang ditunggu yaitu tes TOEFL prediction.
Bersambung…..
Lanjutan Artikel ini hanya bisa di dibaca oleh kamu yang telah meninggalkan komentar dan bergabung pada Kojack’s Fan di Facebook
Baca Juga:

