Ride for Life – Cerita Senior – Senior Liberty

Mungkin karena seminggu kemarin ritme kerja saya diganggu oleh bencana banjir Jakarta, mungkin juga karena cuaca berawan yang digelayuti ketidak pastian membuat saya menjadi lebih sentimentil, tetapi yang jelas tulisan ini terinspirasi dari kegigihan para mengendara motor dalam mengarungi “danau” Jakarta dan  juga jasa motor tunggangannya untuk bertahan sebisa mungkin dari kondisi ekstrim ini untuk mengantarkan empunya mencari penghidupan.

Jika saya lihat kebelakang, sejak saya memiliki Surat Izin Mengemudi motor adalah alat transportasi utama saya. Kadang mobil sempat mengambil alih peranan motor tapi itupun tidak pernah dalam jangka waktu yang lama, dan inilah galery motor – motor yang telah berjasa mengantarkan saya tumbuh dan berkembang dari ABG menjadi seorang manusia dewasa yang mandiri.

Honda Grand 1995

Honda Grand 1995

 

Motor pertama saya, saya masih ingat pertama kali belajar mengendarai motor menggunakan honda grand ini. Motor dengan kubikasi 100 cc ini memang terkenal bandel dan irit walau dalam keadaan standar tidak begitu nyaman untuk dibawa kencang. Lha, untuk mencapai 100 km/jam saja ngos – ngosan ditambah lagi sistem rem yang double tromol bikin hati dag – dig dug kalau harus melakukan pengereman mendadak pada kecepatan “cukup tinggi”, satu hal yang sangat menolong saat itu adalah karakter mesinnya yang ganas dalam engine break. nasib terakhir: dijual dengan harga pasaran yang masih wow.

 

Honda Astrea Supra 1998

Honda Astra Supra

 

Motor kedua yang saya gunakan sehari – hari di bangku SMA. Motor ini saya miliki dalam keadaan rondo alias bekas, Sebenarnya ini bukan motor impian saya saat itu. Saya memimpikan sebuah motor sport, Kawasaki Ninja, tetapi apa daya, impian saya itu harus di tangguhkan dahulu.

Motor ini hanya berjodoh kurang lebih 3 bulan dengan saya karena entah kenapa saya sering sekali apes mengendarai motor ini. Mulai dari yang jatuh karena jalur saya di serobot pendendara lain, jatuh terpeleset pasir sampai menabrak mobil yang menyeberang jalan secara mendadak. Dari semua motor yang pernah saya miliki ini adalah motor yang paling tidak saya sukai karena handlingnya yang buruk apalagi saat harus bermanufer secara mendadak. nasib terakhir: di lego dengan harga yang standar.

 

Suzuki Satria 120R 2003 (2 tak)

Satria 120R (2 tak)

 

Mungkin karena saya sering sekali mengalami kecelakaan saat membesut Supra, orang tua mulai berpikir untuk mengganti motor saya, dan pilihan dijatuhkan kepada Satria 120R, salah satu motor yang happening pada saat itu.

Awalnya orang tua sempat ragu dengan track record saya yang sering mengalami kecelakaan, “apakah jika tunggangan diganti dengan yang lebih kencang malah akan lebih beresiko?” kurang lebih begitu pendapat mereka saat itu.

Tetapi syukurlah, setelah 7 tahun mengendarai motor ini di Magelang, Jogja, Bogor dan Jakarta saya tidak pernah sekalipun mengalami kecelakaan. Walaupun lebih kencang, handling motor sport yang lebih stabil dengan sistem keselamatan yang lebih lengkap (contoh: double disk brake) dibaning motor mainstream terbukti lebih cocok dengan gaya berkendara saya. Nasib terakhir: Masih menyusuri jalanan ibukota :)

Yamaha Mio 2010

Yamaha Mio

 

Memasuki babak baru dalam hidup dimana saya harus bekerja supaya bisa mandiri, saya putuskan meminang, sekali lagi, sebuah janda Yamaha Mio. Saat diterima motor ini masih mulus sekali, kilometernya pun baru menginjak angka 600 km.

Dengan tubuhnya yang ramping dan ringan, Yamaha Mio adalah motor yang cocok sekali digunakan untuk berkendara menyusuri jalan – jalan macet ibukota ataupun mengelinap ke jalan – jalan tikus yang sering berupa gang – gang sempit.

Motor ini juga tidak lepas dari kelemahan. Kelemahan pertama yang cukup mengganggu adalah: motor ini boros tetapi tangki bensinnya kecil. Rasanya menyebalkan sekali setiap dua hari sekali harus berjubel mengantri premium ke SPBU sebelum berangkat atau setelah pulang kantor.  Beralih ke pertamax? Boros dan perbedaan performanya tidak terasa nyata.

Kelemahan kedua yang menurut saya fatal, sama seperti Supra saya, adalah handling. Saya mendapat kesan bahwa motor ini sudah tidak aman saat dikendarai diatas 80 km/jam. Para mengguna Mio pasti juga pernah merasakan sensasi horor saat melakukan pengereman mendadak, apalagi jika pengereman dilakukan di waktu hujan.

Honda All New CBR 150R 2011 (Liberty)

Liberty

 

Saya sudah bosan bejubel antri di SPBU dua hari sekali, senewen dengan karakter Mio yang suka goyang dombret saat rem mendadak atau menerjang lubang/polisi tidur dan juga saya sudah gondok menjadi objek sasaran para penebar paku ranjau. Maka, sekaligus dengan tujuan memenuhi impian masa ABG dahulu pada Oktober 2012 saya meminang Liberty yang kebetulan juga seorang janda.

Sejauh ini Liberty adalah motor yang paling saya sukai dibanding motor – motor yang pernah saya miliki.

 

Nah, itu cerita saya, bagaimana cerita kamu?

 

Jakarta,

Kojack

5 comments

  1. Anonymous says:

    Inden ya klu beli mtr cbt 150 cc repsol apa iya ?….

  2. Anonymous says:

    Klu psn lama cbr150cc repsol smpk 2 bln

  3. paedhimas says:

    mantap juga ceritanye bang..,btw si liberty udah pernah berenang di danau jakarta belon..?

  4. lexyleksono says:

    Suatu perjalanan sejarah yg menarik…kalau dibanding mtor2 sebelumnya ya pastilah si CBR yg lbh mantap.

Leave a Reply

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.