Archive for American’s Life

Apa itu SOPA & PIPA?

SOPA dan PIPA. Okay, what is that? Kenapa sich kok rame banget?

Kalau mau tahu secara panjang lebar dan detail kamu bisa baca disini. Saya akan menjelaskan garis besarnya aja ya.
SOPA dan PIPA adalah usulan undang – undang yang sedang diusulkan oleh seorang senator di Amerika dengan tujuan utama untuk mengurangi pembajakan kekayaan intelektual. Read more

Tips Berkunjung ke Amerika

Untuk pembaca yang ingin berkunjung ke Amerika baik waktu yang singkat ataupun untuk waktu yang lama, saya punya beberapa tips yang sebaiknya kamu perhatikan.

#Surat – surat

Pastikan semua surat – surat penting seperti izin tinggal dan passport tertata dalam satu tempat sehingga jika ditanyakan kamu tidak gelagapan. Ini sangat penting di keimigrasian yang terkenal super – duper ketat itu.

Read more

The Unforgettable Summer

Well, finally, I’m home…

Itu adalah kalimat saya yang saya ucapkan di hati, saat saya membuka pintu gerbang rumah. Hemm, petualangan satu tahun di negeri antah berantah itu akhirnya secara resmi berakhir. Setelah dua minggu di rumah, sekarang waktunya membuat log apa saja yang berkesan selama di Amerika, mulai dari summer alias musim panas.

Di satu sisi summer 2010 akan saya kenang sebagai masa – masa berat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, kebudayaan dan cara hidup baru. Tetapi, di sisi lain summer 2010 akan saya kenang akan kebahagian dan keceriaan dari teman – teman baru yang baek – baek dan asik – asik(red: walau beberapa nyebelin sich)

Pertama, saya datang ke Amerika dengan disambut oleh prosedur NSEERS yang bikin pegel karena disuruh duduk doank dua jam setelah penerbangan 30 jam. Hahaha… ternyata gosip yang sebelumnya saya dengar kalau system keamanan disana ketat banget itu bener.

Kedua, keluar dari bandara O’hare (horay sampai juga ke US!) langsung shock karena jam 8 malem masik kayak jam 4 sore WIB. Penjemput saya bilang kalau summer emang siangnya panjang, dan keterkejutan saya berlanjut dengan hari – hari ngga bisa tidur dua minggu setelahnya karena matahari baru mau pergi jam 10 malam dan udah nongkrong lagi di langit mulai jam 3 pagi.

Ketiga, pertama kali makan di Amerika tuch di Wendy’s dan ngga habis makan sebiji medium burgernya. Pengalaman pertama merasakan porsi makan Amerika yang segede gaban! (Red: 10 bulan kemudian satu large burger belum kenyang, musti nambah kentang goreng baru kenyang :p )

Keempat, menghabiskan waktu yang menyenangkan selama summer. Mulai belajar mengerti kebudayaan lain. Sempat syok ama perbedaan gaya anak IPB dan summer style ala Amerika. Mulai mengembangkan kemampuan berbahasa inggris untuk kehidupan sehari – hari maupun untuk keperluan akademik. Setiap hari ke kampus mulai jam 8 pagi ampe jam 5 sore terus tiap akhir pekan diajak jalan – jalan. Berita besarnya: The Culture shock began...

Kelima, the summer classes ended. sedih saat temen – temen summer harus pergi ke Green Bay…

Therefore, do you think you know what I did last summer? Hemm, I don’t think so.

For the next post, I’ll share about the fall! Met with Andrea Hirata!

Selesa

Millionare Next Door

Ga percuma juga ternyata 6 bulan sekolah di US. Beberapa ilmu yang saya peroleh benar – benar membuka mata saya tentang kemungkinan – kemungkinan baru dalam hidup. Salah satu ilmu itu adalah merencanakan masa tua dalam mata kuliah personal finance.

Kontras dengan model pikir orang Indonesia yang berusaha menyerahkan pengelolaan penghasilan masa tuanya pada pemerintah, di Amerika setiap orang di tuntut untuk mengelola keungannya sendiri, termasuk penghasilan masa tuanya kelak. Karena itu, alih – alih seperti di indonesia yang berlomba – lomba menjadi PNS agar kelak dapat pensiun, mereka memilih mengajarkan personal finance sejak dini sehingga generasi muda mengerti cara menyiapkan masa tuanya kelak.

Dalam personal finance ini diajarkan tentang bagaimana mengelola keungan termasuk mempersiapkan pensiun. Ternyata banyak cara yang bisa di ambil untuk mempersiapkan pensiun. Ada berbagai tools investasi yang bisa digunakan mulai dari saham, reksa dana sampai emas.

Untuk yang tertarik pada topik ini, salah satu dosen saya yang juga seorang konsultan personal finance menyarankan untuk membaca “The Millionare Next Door“. Jika membaca buku ini, lupakan tentang motivator – motivator naif yang berteriak – teriak “Menjadi kaya adalah hak semua orang!”. Kenapa? Karena menjadi kaya bukan hak semua orang. Menjadi kaya adalah hak bagi orang orang yang bersedia menanggung resiko yang menyertainya.

Buku ini sendiri disusun berdasarkan sebuah research yang bisa dipertanggung jawabkan oleh Thomas J. Stanley, Ph.D. dan William D. Danko, Ph.D. dari Harvard University. Dengan membaca buku ini dan memahami data – data yang ada di dalamnya maka bisa dilihat perbedaan cara pikir dan cara hidup antara orang kaya dan orang yang tidak kaya. Bahkan, buku ini bisa mempengaruhi deskripsimu tentang apa itu “kaya”. Ternyata bagi sebagian besar orang Amerika yang memiliki kekayaan lebih dari satu juga dollar diskripsi kaya dan cara hidup mereka tidak seperti yang dimunculkan di film – film Hollywood lho…

Nah, kawan – kawan siapkah kita sebagai generasi milenia belajar untuk menyiapkan pensiun kita sendiri kelak? Dan apakah pengertian kaya menurut kalian? Apakah kaya menurut kalian itu sama dengan deskripsi kaya menurut sinetron yang punya mobil super sport dan rumah mewah?

Ayo kita renungkan sama – sama. :)

Gegar Budaya / Culture Shock

Sebenarnya apa sich yang terjadi dengan saya?

Berbanding terbalik dengan rajinnya aktifitas Gunung Merapi belakangan ini, otak saya sekarang malas sekali diajak beraktifitas, hawanya otak ini ingin berhibernasi seperti pohon Maple di depan kamar.

Saat ini boro – boro menyusun rencana – rencana gila seperti mengikuti kompetisi, traveling ke tempat – tempat antah berantah, atau menyusun rencana hidup jangka panjang. Sekedar menulis sebuah artikel bermutu untuk blog saja, lelahnya bukan main. Seolah – olah telah terbentuk kubah magma yang menyelimuti otak saya. Kubah magma itu menyumbat ledakan lava yang bernama kreativitas dan motivasi. Sungguh, hidup saat ini sangat membosankan sekali. :|

Mungkinkah ini bagian dari sebuah culture shock? Saya belum tahu. Ngomong – ngomong, apa itu culture shock?

Dalam bahasa Indonesia fenomena ini diterjemahkan sebagai gegar budaya. Fenomena yang lazim ditemui para perantau yang tinggal di tempat baru dengan budaya baru. Semakin berbeda budayanya, semakin parah efek yang bisa di timbulkan oleh gegar budaya ini.

Yang dimaksud budaya itu apa?

Budaya yang saya maksud disini adalah cara hidup. Didalamnya termasuk nilai – nilai yang di anut, makanan, pakaian, bahasa, bahkan iklim dan cuaca.

Oh iya, harga – harga juga bisa menyebabkan gegar budaya lho. Saya sich menyebutnya shopping shock. Nanti dech saya bahas di postingan yang lain. :)

Apa sich efeknya?

Efeknya bisa macam – macam, mulai dari tekanan psikologis sampai dengan penyakit fisik. Intinya sich, gegar budaya ini merupakan pemicu awal stress. Nah stress ini jika tidak di kelola dengan baik bisa menurun menjadi penyakit fisik seperti jerawat, gangguan pencernaan, pusing, typus sampai liver.

Seberapa jauh saya harus pindah tempat tinggal untuk merasakan gegar budaya?

Ini relatif untuk tiap – tiap individu. Ada yang baru merasakan gegar budaya saat tinggal di negara antah berantah dengan kultur yang sangat berbeda, ada merasakannya dengan tinggal di negara tetangga yang masih se rumpun, ada yang merasakannya saat tinggal di pulau lain di indonesia, bahkan saya kenal beberapa orang yang mengalaminya bahkan hanya karena pergi ke kota lain.

Bagaimana cara menghindari culture shock?

Tidak bisa di hindari, tetapi masih bisa di kelola. Caranya bagaimana? Saya belum tahu. Karena itu saya akan datang ke konferensinya pada tanggal 17 November besok.

Terimakasih membaca tulisan saya dikala suntuk ini, semoga bisa membantu kamu – kamu yang berencana tinggal di tanah rantau.

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.