Sebenarnya apa sich yang terjadi dengan saya?
Berbanding terbalik dengan rajinnya aktifitas Gunung Merapi belakangan ini, otak saya sekarang malas sekali diajak beraktifitas, hawanya otak ini ingin berhibernasi seperti pohon Maple di depan kamar.
Saat ini boro – boro menyusun rencana – rencana gila seperti mengikuti kompetisi, traveling ke tempat – tempat antah berantah, atau menyusun rencana hidup jangka panjang. Sekedar menulis sebuah artikel bermutu untuk blog saja, lelahnya bukan main. Seolah – olah telah terbentuk kubah magma yang menyelimuti otak saya. Kubah magma itu menyumbat ledakan lava yang bernama kreativitas dan motivasi. Sungguh, hidup saat ini sangat membosankan sekali.
Mungkinkah ini bagian dari sebuah culture shock? Saya belum tahu. Ngomong – ngomong, apa itu culture shock?
Dalam bahasa Indonesia fenomena ini diterjemahkan sebagai gegar budaya. Fenomena yang lazim ditemui para perantau yang tinggal di tempat baru dengan budaya baru. Semakin berbeda budayanya, semakin parah efek yang bisa di timbulkan oleh gegar budaya ini.
Yang dimaksud budaya itu apa?
Budaya yang saya maksud disini adalah cara hidup. Didalamnya termasuk nilai – nilai yang di anut, makanan, pakaian, bahasa, bahkan iklim dan cuaca.
Oh iya, harga – harga juga bisa menyebabkan gegar budaya lho. Saya sich menyebutnya shopping shock. Nanti dech saya bahas di postingan yang lain.
Apa sich efeknya?
Efeknya bisa macam – macam, mulai dari tekanan psikologis sampai dengan penyakit fisik. Intinya sich, gegar budaya ini merupakan pemicu awal stress. Nah stress ini jika tidak di kelola dengan baik bisa menurun menjadi penyakit fisik seperti jerawat, gangguan pencernaan, pusing, typus sampai liver.
Seberapa jauh saya harus pindah tempat tinggal untuk merasakan gegar budaya?
Ini relatif untuk tiap – tiap individu. Ada yang baru merasakan gegar budaya saat tinggal di negara antah berantah dengan kultur yang sangat berbeda, ada merasakannya dengan tinggal di negara tetangga yang masih se rumpun, ada yang merasakannya saat tinggal di pulau lain di indonesia, bahkan saya kenal beberapa orang yang mengalaminya bahkan hanya karena pergi ke kota lain.
Bagaimana cara menghindari culture shock?
Tidak bisa di hindari, tetapi masih bisa di kelola. Caranya bagaimana? Saya belum tahu. Karena itu saya akan datang ke konferensinya pada tanggal 17 November besok.
Terimakasih membaca tulisan saya dikala suntuk ini, semoga bisa membantu kamu – kamu yang berencana tinggal di tanah rantau.