Archive for American’s Places

Sepotong Cerita yang terlewatkan dari Kedai Kopi Menara Hancock


Jika kamu pernah membaca bukunya Andrea Hirata yang judulnya Cinta Dalam Gelas maka kamu pastinya tahu bahwa bagi orang Indonesia, khususnya orang melayu, kopi itu adalah minuman sosial. Rasa dan aromanya bisa berubah – ubah sesuai mood orang yang meminumnya. Teori itu mungkin berlaku bagi orang Indonesia yang suka menghabiskan waktunya berjam – jam di warung kopi untuk menggosip, merenung, meratap atau sekedar berbagi kesulitan hidup dengan sesama. Bagaimana dengan di Amerika?

Read more

Video Blog Talk Show: Chicago, The Windy City

Pada bulan terakhir saya tinggal di Amerika, saya menyempatkan diri mendatangi objek – objek terkenal di pusat kota Chicago. Salah satu objek yang saya kunjungi adalah Hancock Tower yang berada di Michigan Avenue.

Dalam rangka menyempatkan diri belajar video blogging saya dan tamu blogging saya, Ali Musthafa, ditemani oleh seorang cameramen amatir yang setia membantu dengan peralatan seadanya, Rina Meiyanti membuat talk show singkat berdurasi kurang lebih lima menit dengan tema Chicago, The Windy City.

Aspek Teknis:

Dari sisi teknis video ini diambil menggunakan kamera pocket Canon Point & Shoot kamera. Kamera ini hanya mampu mengambil video dengan resolusi 640×480 dengan aspect ratio 4:3. Karena saya adalah penyuka video dengan format wide maka video tersebut selanjutnya saya olah menggunakan software dan saya crop menjadi video berformat 640×360 dengan aspect ratio 16:9.

Jelas sangat tidak adil jika membandingkan video yang dihasilkan oleh kamera ini dengan video yang dihasilkan kamera DSLR yang sering saya pakai. Warna yang dihasilkan oleh video ini tidak terlalu istimewa, baik dari segi kontras atau ketajaman. Hal ini bisa diterima mengingat kecilnya sensor dan lensa yang dimiliki kamera point & shoot. Memang, harga tidak bohong. Tetapi secara keseluruhan, kualitas gambar video ini ada di level “acceptable” atau masih bisa di terima dan video ini masih menarik untuk dilihat.

Note:

Sebenarnya saat video ini diambil ada dua kamera DSLR yang memiliki kemampuan video prima di kolong meja, Sony SLT-33 & Canon 60D, tetapi sayangnya tidak ada cameraman yang memiliki kemampuan mengoperasikan peralatan tersebut L.

Untuk urusan suara sendiri saya percayakan kepada microphone standar yang tertanam di kamera yang saya pakai. Kualitas yang dihasilkan memang tidak prima, banyak sekali noise yang terekam, tetapi dengan segala keterbatasan peralatan, kualitas ini masih bisa ditolerir karena suara kedua pembawa acarapun masih bisa di dengar dengan jelas. Untuk microphone ini sendiri sepertinya jika saya sudah pulang ke Indonesia, saya akan mencoba membuat microphone sendiri untuk meningkatkan kualitas suara video saya.

Oke, selamat menikmati video amatir dari kami, semoga bisa menghibur.

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.