Pagi Dunia
,
Yang muda yang bergaya
, karena itu untuk kamu yang masih muda (ex: Dibawah semester 7 termasuk SMA) tetapi punya impian bisa sekolah ke luar negeri ada beberapa tips dari saya. (red:hehehe… beberapa hari ini demen banget ngasih tips)
Pagi Dunia
,
Yang muda yang bergaya
, karena itu untuk kamu yang masih muda (ex: Dibawah semester 7 termasuk SMA) tetapi punya impian bisa sekolah ke luar negeri ada beberapa tips dari saya. (red:hehehe… beberapa hari ini demen banget ngasih tips)
Tak terasa sudah tinggal dalam hitungan hari aku akan meninggalkan negara ini. Satu tahun di sini benar – benar terasa seperti mimpi.
Hemm… Di tempat yang oleh seorang “kenalan” pernah disebut sebagai “tanah kafir” ini, aku malah menemukan wajah – wajah lain dari kehidupan. Aku melihat tentang arti sebenarnya dari keberagaman, tentang bagaimana manusia bisa hidup dengan berbagai cara dan tentang pilihan – pilihan hidup yang sebenarnya ada 20 cm di depan batang hidungku tapi tidak pernah tampak oleh kedua mataku selama ini.
“Apakah satu tahun ini merubah pola pikirku?” Tentu saja iya.
Banyak pengalaman yang aku kumpulkan disini, banyak ilmu yang aku dapat, banyak orang – orang hebat yang aku temui, banyak rintangan yang berhasil aku lewati walau beberapa dengan gilang -gemilang juga pernah meluluhlantakan dan mematahkan hatiku.
Hasilnya? Seperti pepatah klasik, semakin orang belajar, semakin tidak tahulah dia. Sekarang ini, semakin banyak kegalauan tentang kehidupan dalam hatiku dan semakin banyak pertanyaan usil yang ingin aku cari jawabannya di sisa kehidupanku ini.
Nah kawan, walau tidak ada hubungan langsung dengan frasa diatas tapi sepertinya, sebelum aku pulang, aku harus membuat film dokumenter untuk project video blogging selanjutnya….
Selesai
Kj
Malam ini di saya di tanya oleh seorang rekan, “kak Kojack, intinya biar berhasil dalam wawancara apa sich?” nampaknya dari berbagai kompetisi yang pernah diikutinya, dia banyak mentok di tahap wawancara.
Buat saya, wawancara adalah bagian dari sebuah kompetisi. Banyak orang yang suka dengan wawancara, termasuk saya, tetapi saya pikir lebih banyak orang yang frustasi terhadap wawancara.Kenapa bisa begitu? karena percaya atau tidak, wawancara itu bisa mengakibatkan efek trauma. Jika sudah merasa melakukan hal terbaik tetapi terus – terusan gagal dalam sebuah wawancara dan tidak mengerti kenapa dirinya gagal, maka lama – lama orang jadi krisis kepercayaan diri saat wawancara. Jika berkelanjutan, wawancara bisa menjadi sebuah monster yang memicu sebuah fobia.
Saya pernah merasakan fobia wawancara saat tingkat satu di IPB. Dulu saya di tolak berbagai lembaga kemahasiswaan kampus. Saat itu perasaan saya telah melakukan yang terbaik dengan menjadi diri sendiri tapi entah kenapa saya selalu gagal. Akhirnya saya malas sendiri ikutan seleksi yang ada wawancaranya karena takut kecewa lagi, lagi dan lagi.
Akhirnya saya renungkan dalam – dalam fenomena itu. Sebenarnya apa sich esensi wawancara? sampai pada akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulang bahwa wawancara itu adalah bagian dari marketing, marketing diri sendiri lebih spesifiknya. Karena itu inti memenangkan wawancara sama dengan inti dari marketing yang di rumuskan menjadi:

|
Supply |
= |
Demand |
Simple sekali kan? Yang perlu kamu lakukan hanya mencari titik equilibrium atau diterjemahkan menyediakan sesuatu (suppy) yang sesuai dengan keinginan pewawancara (demand) maka kamu pasti lolos. Nah dalam kasus saya itu, ternyata supply yang saya tawarkan dengan demand yang pewawancara inginkan tidak klop. Mungkin dimata mereka saya terlalu realistis dan yang mereka inginkan adalah orang idealis. Dulu terang – terangan saya bilang kalau saya muak dengan demo, sedangkan yang mereka cari mungkin adalah seorang yang bisa menjadi orator dalam sebuah demo. Ya logislah kalau saya di tendang oleh mereka.
Pernah juga di wawancara menjadi asisten dosen saya di tolak. Kenapa? karena walaupun saya punya nilai A dalam matakuliah itu dan nilai ujian saya adalah salah satu yang terbaik di kelas, posisi saya saat itu adalah mahasiswa yang baru aktif setelah cuti panjang karena sakit. disamping itu slot yang tersedia cuma satu, sedangkan ada teman saya yang lebih dekat dengan para pewawancara. Jadi, walau nilai dia B dialah yang terpilih. Nah dalam kasus ini penyebabnya bukan supply saya tidak sama dengan demand tetapi mungkin pewawancara menemukan supply dengan opportunity cost yang lebih baik.
Bagaimana menurutmu kawan? simple sekali kan? tapi pada prakteknya teori gampang ini dapat diterjemahkan menjadi berjuta strategi lho. Karena itu, silahkan ajukan pertanyaan2an yang membuat saya terus menulis dan terus simak blog ini ya.

Aku adalah seorang pemimpi. Secara otomatis aku adalah seorang penantang. Aku menantang jerat dan belenggu yang menghalangiku.
Aku menantang untuk mengalahkan kebodohanku dan kemalasanku hingga penatku otaku. Hingga merah mataku. hingga habis tenagaku.
Ah puisi picisan lagi. Tidak ada yg menghargai karya buatan mahasiswa dengan nilai bahasa Indonesia D. Ha3x lucu kan? Tertawalah. Aku suka membuat orang tertawa. Tapi sobat, cobalah kau lihat CV ku dan kau sendiri yang akan menelan tawamu.
Kenapa lagi sobat? Merasa tak bisa mengalahkanku? Ah sobat, ingatkah 10 detik lalu kau menertawakanku sebagai manusia yg lebih rendah darimu. Apakah dalam 10 detik kau tiba2 lebih rendah dari orang yg kau tertawakan? Sobat, tanpa mentalitas penantang maka rasa sebalmu itu akan selalu menghantuimu seumur hidupmu. Kau akan menemui para penantang lain yg siap berjuang untuk maju dan kau akan selalu menjadi sampah yg tertinggal di belakang.
Itu tulisan yang aku buat setahun yang lalu untuk menyemangati diriku mengejar beasiswa. Kalau dibaca sekarang rada naif sich, tapi tak apalah. Katanya kan masa muda masa yang berapi api.
Tapi lihalah sobat, betapa optimisnya aku waktu itu. Pasti waktu itu dulu lagu favoritku adalah :
Sekarang, tanpa terasa aku sudah di Amerika dan malunya aku saat mendengar lagunya yang kak Rhoma yang berjudul :
sekarang ini aku kebanyakan begadang untuk hal remeh – temeh seperti ribut – ribut ber jam – jam ngurusin facebook dan social network sejenisnya…
Beneran dech, malu ndengerin lagunya opa Rhoma itu kalau homework setumpuk itu belum diselesaikan atau kalau belum belajar.
Jadi sobat, jika kamu masih muda (serasa udah tua aja
) gapailah seluruh kemungkinan yang bisa kamu peroleh. Gantungkanlah cita – citamu setinggi mungkin. Beranilah bermimpi.! Bersemangatlah untuk menggapai impianmu! Karena masa masa penuh tekanan itu kelak akan engkau rindukan. Seperti sekarang, aku merindukan masa – masa penuh tekanan dalam mengejar beasiswa ini.
Ayo sobat, terus maju!
sebenarnya ini draft udah lama ngendep di blog saya tapi belom sempat saya kerjain, jadi tak apalah saya publish sekarang
Oh ya, sebelum memulai tulisan ini saya ingin memberikan batasan yang jelas antara perbedaan scholarship dan financial aid yang keduanya di bahasa indonesia dipukul rata menjadi beasiswa. Scholarship adalah grant yang diberikan karena sebuah prestasi atau kemampuan. Di Amerika banyak scholarship jenis ini yang diberikan pada anak – anak yang punya IPK bagus sampai anak anak yang jago olahraga. Financial aid adalah grant yang diberikan kepada siswa yang “kurang mampu” (red : nyokap saya berkeras kalau kata “kurang mampu” sudah tidak relevan lagi untuk beasiswa ini dan sebaiknya diganti dengan kata miskin
)
Dulu ada pertanyaan ke saya “Kenapa sich orang – orang mencari beasiswa?” Banyak alasan orang mencari beasiswa (versi Indonesia). Dari pengalaman dan pengamatan saya, ini adalah beberapa alasan pelajar mencari beasiswa baik itu scholarship.
1. Siapa sich yang ga suka gratisan?
Secara kasarnya beasiswa itu kan seperti rejeki nomplok. Bayangin aja mahasiswa dapet tunjangan uang 300.000 – 500.000 rupiah per-bulan. Hemm…. Siapa sich yang ga’ mau gratisan? (red : walau sebenarnya uang itu harus dipertanggung jawabkan). Bahkan di beberapa kampus ada aktivis yang sampai menggerakan masa untuk demo karena ga kebagian “beasiswa”.
2. Bentuk kebanggaan
Beberapa orang mengejar beasiswa untuk mengejar kebanggaan dan eksistensi diri. Implikasinya banyak saya dengar kalimat seperti ini “diakan udah tajir, ngapain lagi apply beasiswa?” nah lo, sekarang kamu tahu kan kenapa saya ngotot membedakan antara scholarship dan financial aid. Walau dia kaya, ga ada salahnya donk dapet scholarship. Scholarship kan diberikan karena prestasi dia. Tapi jadi rada ga tahu diri kalau dia kaya tapi apply beasiswa yang sisfatnya financial aid.
Jadi, kalau di perguruan tinggi Indonesia prakteknya mungkin gini, “beasiswa” (red : Scholarship) Pengembangan Prestasi Akademik (PPA) harusnya boleh di apply tanpa harus melampirkan surat tanda “tidak mampu” tapi harus melampirkan prestasi yang kinclong sedangkan “beasiswa” (red : Financial Aid) Bantuan Mahasiswa (BBM) hanya boleh di apply oleh mahasiswa yang “mampu” melampirkan surat keterangan “tidak mampu” (red : miskin).
3. Nambah nambah uang jajan
Ini yang sebenarnya kurang bener… Hakikatnya kalau mahasiswa dapat “beasiswa” maka uangnya bisa dipakai untuk membantu orang tua meringankan beban biaya kuliah anaknya. Tapi, ada lho yang orang tuanya ngga tahu anaknya dapet beasiswa…. Trus uangnya buat apa? Pikir aja sendiri
Untuk kamu yang memutuskan/tertarik apply beasiswa CCIP, langkah pertama tentu saja membaca syarat ketentuan ini :
The Bureau of Educational and Cultural Affairs of the United States Department of State is pleased to announce the Community College Initiative Program. This new international educational exchange program enables individuals from Brazil, Egypt, Indonesia, Pakistan, Turkey and South Africa to study at a community college in the United States to develop professional skills.
Eligible fields are Business Management and Administration; Tourism and Hospitality Management; Health Professions, including Nursing; Media; Information Technology; Agriculture; and Engineering Science.
ELIGIBILITY
To apply to the program, candidates must:
U.S. PROGRAM
The Community College Summit Initiative Program will provide funding for round-trip airfare to the U.S.; a living allowance during English language, academic, and practical training program components; tuition costs; health insurance; and cultural enhancement activities. Students will be hosted in groups by community colleges competitively selected to participate in the program. Programs may range from six months to two years in duration and may result in either a certificate or an Associate Degree. Students are required to return home at the end of their program and may not transfer to a four-year U.S. academic institution.
SUBMISSION OF APPLICATIONS
AMINEF is administering this program on behalf of the Bureau of Educational and Cultural Affairs of the United States Department of State. Please return to AMINEF your complete application package (original application and two copies) by the application deadline that includes:
Please send the application package to AMINEF Office, Gedung Balai Pustaka, 6th floor, Jl. Gunung Sahari Raya 4, Jakarta 10720 NO LATER November 1, 2010.
For additional information, contact infofulbright_ind@aminef.or.id.
We do not accept email applications. Hard copies must be sent or delivered to American Indonesian Exchange Foundation.
syarat ketentuan ini dikutip dari sini
Setelah membaca syarat dan ketentuan tersebut dengan seksama, maka langkah berikutnya yang harus diambil adalah mengunduh formulir aplikasi di sini. Formulir tersebut tersedia dalam format MS Office 2003. Ini merupakan formulir pendaftaran resmi dari AMINEF untuk program CCIP, jadi jangan sampai tertukar dengan formulir dari program lain, tampilan aplikasi itu adalah sebagai berikut :
Lanjut ke pembahasan konten, disana bisa kamu lihat bahwa formulir ini dibagi menjadi 3 bagian utama yaitu formulir identitas diri, formulir essay dan formulir application certification statment (ACS). Sekarang mari kita bahas masing – masing bagian tersebut sesuai dengan pengalaman saya.
1. Identitas diri
Menurut saya ini bagian yang relatif mudah untuk diisi. disitu kamu hanya disuruh untuk mengisikan identitasmu. Informasi yang harus diinformasikan disini antara lain, nama, alamat, jenis kelamin, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, dll. Oh ya, disini kamu ditanya apakah kamu pernah pergi ke luar negeri?Jika memang belum pernah (red : seperti penulis) maka jangan ragu untuk menuliskan none. oh ya, sebelum mengisi, baca petunjuk dengan seksama dan tolong diingat bahwa kamu tidak boleh mengkosongkan kolom dari aplikasi ini karena aplikasimu akan dianggap belum lengkap. Jika memang tidak ada informasi yang bisa kamu tuliskan di kolom tersebut maka tulis saja : none.
2. Formulir Essay
Nah, inilah bagian yang paling tricky dan membingungkan bagi banyak orang. Kamu harus mampu membuat essay yang mampu meyakinkan pemberi beasiswa. Pertanyaan yang diajukan antara lain adalah : “kenapa anda merasa diri anda akan menjadi kandidat yang baik?” sampai dengan “apa yang akan anda bagikan pada amerika?” dll. Mayoritas penanya yang menghubungi saya baik via internet, email atau facebook bertanya tentang bagian ini, dan beberapa dari mereka meminta saya mengirimkan aplikasi saya kepada mereka. Tetapi, jawaban saya selalu sama. “maaf saya tidak bisa mengirimkan aplikasi saya pada anda.
, tapi silahkan anda buat essay anda dan saya akan dengan senang hati memberi masukan pada essay anda ” jadi jika anda ingin saya mengirimkan aplikasi saya maka jawaban yang serupa akan saya berikan pada anda
.
Saran saya untuk kamu adalah, belajarlah menulis. Kita sudah belajar menulis sejak SD tapi menuangkan apa yang ada dalam otakmu pada sebuah keyboard secara terorganisir akan sangat berbeda tantangannya dengan sekedar memindahkan kalimat “ini ibu budi” di papan tulis ke bukumu seperti waktu SD dulu
. Saran kedua adalah, pahami posisimu. Tempatkan mindset-mu bahwa kamu menulis untuk membuat pemberi beasiswa percaya pada kapasitasmu, bukan untuk kepuasan batinmu
. Saran ketiga, open mind. Pelajari hal – hal baru, mintalah testimonial pada para alumni atau grantee sebelumnya, karena dari situlah kamu akan memahami “medan perang” yang akan kamu hadapi. (red : ini filosofi tentara yang sangat berguna. Maju perang tanpa persiapan = setor nyawa)
3. Application Certification Statment (ACS)
Aplikasi ketiga adalah Application Certification Statment (ACS). Ini adalah aplikasi yang paling mudah diisi. Kamu cukup mengisi tanggal dan membubuhkan tanda tangan maka, ta da! aplikasimu selesai.
Selamat sekarang kamu sudah sedikit banyak mengerti tentang cara mengisi formulir beasiswa CCIP. Jika kamu suka dengan artikel ini maka tolong tinggalkan komentar di blog ini, karena komentar bagi blogger seprti saya tak ubahnya adrenaline yang akan menyemangati saya untuk lebih produktif
.
Mempersiapkan persyaratan administrasi merupakan tahap awal dalam apply beasiswa CCIP, tapi ini bukan tahap sembarangan. Kesalahan dalam tahap ini akan menghapus segala pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan biaya. Kuncinya adalah baca dengan teliti apa saja syarat yang diminta oleh beasiswa itu karena masing – masing beasiswa punya syarat yang berbeda. Jika bingung dengan apa saja yang diminta maka jangan segan – segan bertanya pada pihak pemberi beasiswa. Biasanya mereka welcome pada pertanyaan kok.
Dalam kasus saya, saya mendaftar untuk program CCIP. Menurut website AMINEF, persyaratan mendaftar program ini adalah :
PERSYARATAN
Untuk mendaftarkan diri, peserta harus:
dan jika dibatasi hanya masalah dokumenadministrasi maka persyaratannya adalah seperti ini :
Biasanya dari empat point itu yang menjadi momok adalah nomor dua dan tiga. Sedangkan yang sering bikin bingung adalah nomor satu dan empat. Kesimpulannya, semua point bikin confuse.
Untuk penjelasan dan cerita tentang cara mengisi masing – masing aplikasi akan saya tulis pada posting saya selanjutnya.
Cheers!!! Happy hunting!
Jika kamu pengen mengetahui lebih detail cerita ini maka saran saya donwload dulu formulir pendaftaran diatas atau di sini.
Teman, pertama kali kamu membaca formlulir pendaftaran ini pasti kamu bingung, dulu aku pun bingung, ayahku bingung dan ibuku juga bingung, apalagi adekku yang gendut itu. Untuk itulah aku mentelpon AMINEF untuk bertanya perihal cara mengisi formulir itu. cuma entah apes karena lupa berdo’a sebelum telpon, hari itu officer nya sepertinya lagi bad mood.
Percakapan saya dengan Officer AMINEF » “Hallo, Ada yang bisa dibantu?” Officer AMINEF bertanya dengan nada datar “Halo Mbak, saya ingin mendaftar program CCIP tapi masih bingung.” saya menjawab dengan nada memelas “Ya, bingung bagian apa? dah download formulirnya kan?” masih dijawab dengan nada datar “Udah mbak, cuma bingung ngisinya. Boleh ga ya saya minta petunjuk lebih detail? atau saya isi dan jika ternyata yang saya tulis tidak sesuai dengan yang AMINEF inginkan bisa dikembalikan lagi ke saya untuk dikoreksi.” suara saya kali ini dalam nada memelas. “Maaf ya, Kami tidak melayani koreksi.” Kali ini jawabannya naik level dari datar menuju ketus “Oh iya. Maaf Mengganggu. Terimakasih.” Saya mengkeret dan menjawab dengan cepat untuk kabur.
akhirnya saya putuskan untuk meraba raba dalam kegelapan untuk menyelesaikan formulir itu.
Masalah makin komplek karena saat itu saya sadar bahwa saya tidak jago dalam bahasa inggris, tidak pintar merangkai kata, kurang ganteng, kurang atletis, bukan cum laude, bukan anak presiden, IPK<3,5, ga jago matematika. Pokoknya panik sendiri dech!!!!
Untuk itulah saya mulai mengelompokan kartu yang saya miliki menjadi tiga kelompok besar yaitu, Kelebihan, Kekurangan dan Sumber Daya. seperti ini contohnya :
Akhirnya dengan membuat list seperti itu lebih mudah untuk saya menuliskan siapa saya dalam formulir pendaftaran itu.
untuk yang satu ini rada komplek dan inilah trik saya yang belum mau saya beberkan sampai tahun depan
maaf ya….
Kojack's Blog is Stephen Fry proof thanks to caching by WP Super Cache