Archive for America

Berkemas

Seorang dosen favorit saya bilang :

Aria, It’s not the destination in life that matters, it’s the trip itself.”

Well, saya jadi merenung dan benar juga kata dia. Hidup yang sudah dilewati ternyata bukan tentang saya pernah pergi kemana dan apa yang telah saya capai tetapi tentang bagaimana perjalanan saya mencapai tempat itu. Begitu juga kehidupan yang menanti di depan, bukan tentang kembali ke Indonesia untuk menyombong kesemua orang bahwa saya pernah dapet beasiswa ke Amerika karena, dengan segala kerendahan hati, di Indonesia pasti lebih banyak orang yang punya kualifikasi lebih dibanding saya untuk mendapat beasiswa ini. Ya, benar kembali ke Indonesia bukan lagi untuk menunjukan ke dunia apa yang bisa saya lakukan. Bukan lagi tentang pembuktian diri, bukan lagi tentang me against the world.

Sekarang adalah waktunya untuk berbagi. Berbagi ilmu yang diperoleh serta berbagi pengalaman yang dimiliki untuk memotivasi orang lain bergerak maju. Karena pada akhirnya pemenang sejati bukanlah orang yang paling kaya atau punya posisi tertinggi, tetapi pemenang sejati adalah orang yang maju kedepan dan bahagia bersama orang lain.

Indonesia, I got enough from you. It’s time to share; it’s time to back to a small place called home.

 

Aria

Sepotong Cerita yang terlewatkan dari Kedai Kopi Menara Hancock


Jika kamu pernah membaca bukunya Andrea Hirata yang judulnya Cinta Dalam Gelas maka kamu pastinya tahu bahwa bagi orang Indonesia, khususnya orang melayu, kopi itu adalah minuman sosial. Rasa dan aromanya bisa berubah – ubah sesuai mood orang yang meminumnya. Teori itu mungkin berlaku bagi orang Indonesia yang suka menghabiskan waktunya berjam – jam di warung kopi untuk menggosip, merenung, meratap atau sekedar berbagi kesulitan hidup dengan sesama. Bagaimana dengan di Amerika?

Read more

Video Blog Talk Show: Chicago, The Windy City

Pada bulan terakhir saya tinggal di Amerika, saya menyempatkan diri mendatangi objek – objek terkenal di pusat kota Chicago. Salah satu objek yang saya kunjungi adalah Hancock Tower yang berada di Michigan Avenue.

Dalam rangka menyempatkan diri belajar video blogging saya dan tamu blogging saya, Ali Musthafa, ditemani oleh seorang cameramen amatir yang setia membantu dengan peralatan seadanya, Rina Meiyanti membuat talk show singkat berdurasi kurang lebih lima menit dengan tema Chicago, The Windy City.

Aspek Teknis:

Dari sisi teknis video ini diambil menggunakan kamera pocket Canon Point & Shoot kamera. Kamera ini hanya mampu mengambil video dengan resolusi 640×480 dengan aspect ratio 4:3. Karena saya adalah penyuka video dengan format wide maka video tersebut selanjutnya saya olah menggunakan software dan saya crop menjadi video berformat 640×360 dengan aspect ratio 16:9.

Jelas sangat tidak adil jika membandingkan video yang dihasilkan oleh kamera ini dengan video yang dihasilkan kamera DSLR yang sering saya pakai. Warna yang dihasilkan oleh video ini tidak terlalu istimewa, baik dari segi kontras atau ketajaman. Hal ini bisa diterima mengingat kecilnya sensor dan lensa yang dimiliki kamera point & shoot. Memang, harga tidak bohong. Tetapi secara keseluruhan, kualitas gambar video ini ada di level “acceptable” atau masih bisa di terima dan video ini masih menarik untuk dilihat.

Note:

Sebenarnya saat video ini diambil ada dua kamera DSLR yang memiliki kemampuan video prima di kolong meja, Sony SLT-33 & Canon 60D, tetapi sayangnya tidak ada cameraman yang memiliki kemampuan mengoperasikan peralatan tersebut L.

Untuk urusan suara sendiri saya percayakan kepada microphone standar yang tertanam di kamera yang saya pakai. Kualitas yang dihasilkan memang tidak prima, banyak sekali noise yang terekam, tetapi dengan segala keterbatasan peralatan, kualitas ini masih bisa ditolerir karena suara kedua pembawa acarapun masih bisa di dengar dengan jelas. Untuk microphone ini sendiri sepertinya jika saya sudah pulang ke Indonesia, saya akan mencoba membuat microphone sendiri untuk meningkatkan kualitas suara video saya.

Oke, selamat menikmati video amatir dari kami, semoga bisa menghibur.

Hari – Hari Terakhir

Tak terasa sudah tinggal dalam hitungan hari aku akan meninggalkan negara ini. Satu tahun di sini benar – benar terasa seperti mimpi.

Hemm… Di tempat yang oleh seorang “kenalan” pernah disebut sebagai “tanah kafir” ini, aku malah menemukan wajah – wajah lain dari kehidupan. Aku melihat tentang arti sebenarnya dari  keberagaman, tentang bagaimana manusia bisa hidup dengan berbagai cara dan tentang pilihan – pilihan hidup yang sebenarnya ada 20 cm di depan batang hidungku tapi tidak pernah tampak oleh kedua mataku selama ini.

“Apakah satu tahun ini merubah pola pikirku?” Tentu saja iya.

Banyak pengalaman yang aku kumpulkan disini, banyak ilmu yang aku dapat, banyak orang – orang hebat yang aku temui, banyak rintangan yang berhasil aku lewati walau beberapa dengan gilang -gemilang juga pernah meluluhlantakan dan mematahkan hatiku.

Hasilnya? Seperti pepatah klasik, semakin orang belajar, semakin tidak tahulah dia. Sekarang  ini, semakin banyak kegalauan tentang kehidupan dalam hatiku dan semakin banyak pertanyaan usil yang ingin aku cari jawabannya di sisa kehidupanku ini.

Nah kawan, walau tidak ada hubungan langsung dengan frasa diatas tapi sepertinya, sebelum aku pulang, aku harus membuat film dokumenter untuk project video blogging selanjutnya….

Selesai

Kj

Avatars Baru

Yeee haa! Aku punya avatar baru!

Apaan sich avatar? Avatar itu semacam gambar yang mendeskripsikan kamu. Biasanya di pake di Instant Messaging. Mungkin dengan melandanya demam facebook orang jadi lebih ngerti dan ngeh kalau aku sebut avatar itu semacam profile picture.

Ih, Avatarnya lucu Banget. Gimana sich cara bikinnya?

Gampang kok, maen aja ke sini lalu ikutin langkah – langkah yang mereka sediakan. kamu bisa mengkustomasi avatar yang paling kamu banget disana dalam beberapa klik. Jadi buruan bikin avatar kamu sendiri!

nb : Ada yang bisa ngebantuin aku ngerubah gambar ini menjadi gambar vektor ga ya?

Brain Drain

Apa sich ini?

ini adalah fenomena yang banyak terjadi akibat dari pembangunan dunia yang tidak merata dimana banyak sumber daya manusia unggul di negara berkembang atau tertinggal yang hijrah ke negara maju.

Lalu dimana letak masalahnya?

Kojack coba menganalisis dari berbagai sudut pandang nech ya. Kalau ada yang lebih expert di bidang ini mohon Kojack diberi masukan.


Dari sudut pandang orang luar di negara asal :

Nich orang ga’ nasionalis banget! udah di sekolahin jauh – jauh, begitu dapet ilmunya ga dipake untuk membangun negara sendiri. Malah dipake untuk kerja di negeri orang yang pasti bayarannya lebih gede. Egois banget sich!”

Dari sudut pandang orang luar di negara yang di datangin :

“Nich orang dari negara antah berantah bisa apa? Dateng – dateng cuma nyolong kerjaan strategis disini aja”

Dari sudut pandang pelaku/korban :

“Ilmu yang aku pelajari selama ini bisa di terapin di Indonesia ngga ya? Apa indonesia punya alat – alatnya? 7 tahun aku belajar mati – matian tentang ilmu nuklir, eh Indonesia ngga punya reaktor nuklir. Jangan – jangan ntar pulang cuma jadi juru tulis di kantor lagi, kalau cuma begitu sich lulusan SMA juga bisa. Duh, bingung aku. Pulang ngga ya…. Secara profesor udah nawarin kerjaan di badan nuklir eropa yang jelas – jelas disitu aku bisa nerapin ilmu – ilmuku.”

Nah lo? Kalau udah begini siapa yang salah? Endingnya sich paling enak kita ramai – ramai menyalahkan pemerintah! Hahaha….

Yak, sekarang mari berdiskusi ;-)

Millionare Next Door

Ga percuma juga ternyata 6 bulan sekolah di US. Beberapa ilmu yang saya peroleh benar – benar membuka mata saya tentang kemungkinan – kemungkinan baru dalam hidup. Salah satu ilmu itu adalah merencanakan masa tua dalam mata kuliah personal finance.

Kontras dengan model pikir orang Indonesia yang berusaha menyerahkan pengelolaan penghasilan masa tuanya pada pemerintah, di Amerika setiap orang di tuntut untuk mengelola keungannya sendiri, termasuk penghasilan masa tuanya kelak. Karena itu, alih – alih seperti di indonesia yang berlomba – lomba menjadi PNS agar kelak dapat pensiun, mereka memilih mengajarkan personal finance sejak dini sehingga generasi muda mengerti cara menyiapkan masa tuanya kelak.

Dalam personal finance ini diajarkan tentang bagaimana mengelola keungan termasuk mempersiapkan pensiun. Ternyata banyak cara yang bisa di ambil untuk mempersiapkan pensiun. Ada berbagai tools investasi yang bisa digunakan mulai dari saham, reksa dana sampai emas.

Untuk yang tertarik pada topik ini, salah satu dosen saya yang juga seorang konsultan personal finance menyarankan untuk membaca “The Millionare Next Door“. Jika membaca buku ini, lupakan tentang motivator – motivator naif yang berteriak – teriak “Menjadi kaya adalah hak semua orang!”. Kenapa? Karena menjadi kaya bukan hak semua orang. Menjadi kaya adalah hak bagi orang orang yang bersedia menanggung resiko yang menyertainya.

Buku ini sendiri disusun berdasarkan sebuah research yang bisa dipertanggung jawabkan oleh Thomas J. Stanley, Ph.D. dan William D. Danko, Ph.D. dari Harvard University. Dengan membaca buku ini dan memahami data – data yang ada di dalamnya maka bisa dilihat perbedaan cara pikir dan cara hidup antara orang kaya dan orang yang tidak kaya. Bahkan, buku ini bisa mempengaruhi deskripsimu tentang apa itu “kaya”. Ternyata bagi sebagian besar orang Amerika yang memiliki kekayaan lebih dari satu juga dollar diskripsi kaya dan cara hidup mereka tidak seperti yang dimunculkan di film – film Hollywood lho…

Nah, kawan – kawan siapkah kita sebagai generasi milenia belajar untuk menyiapkan pensiun kita sendiri kelak? Dan apakah pengertian kaya menurut kalian? Apakah kaya menurut kalian itu sama dengan deskripsi kaya menurut sinetron yang punya mobil super sport dan rumah mewah?

Ayo kita renungkan sama – sama. :)

Inti Dari Memenangkan Sebuah Wawancara

Malam ini di saya di tanya oleh seorang rekan, “kak Kojack, intinya biar berhasil dalam wawancara apa sich?” nampaknya dari berbagai kompetisi yang pernah diikutinya, dia banyak mentok di tahap wawancara.

Buat saya, wawancara adalah bagian dari sebuah kompetisi. Banyak orang yang suka dengan wawancara, termasuk saya, tetapi saya pikir lebih banyak orang yang frustasi terhadap wawancara.Kenapa bisa begitu? karena percaya atau tidak, wawancara itu bisa mengakibatkan efek trauma. Jika sudah merasa melakukan hal terbaik tetapi terus – terusan gagal dalam sebuah wawancara dan tidak mengerti kenapa dirinya gagal, maka lama – lama orang jadi krisis kepercayaan diri saat wawancara. Jika berkelanjutan, wawancara bisa menjadi sebuah monster yang memicu sebuah fobia.

Saya pernah merasakan fobia wawancara saat tingkat satu di IPB. Dulu saya di tolak berbagai lembaga kemahasiswaan kampus. Saat itu perasaan saya telah melakukan yang terbaik dengan menjadi diri sendiri tapi entah kenapa saya selalu gagal. Akhirnya saya malas sendiri ikutan seleksi yang ada wawancaranya karena takut kecewa lagi, lagi dan lagi.

Akhirnya saya renungkan dalam – dalam fenomena itu. Sebenarnya apa sich esensi wawancara? sampai pada akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulang bahwa wawancara itu adalah bagian dari marketing, marketing diri sendiri lebih spesifiknya. Karena itu inti memenangkan wawancara sama dengan inti dari marketing yang di rumuskan menjadi:

Supply = Demand

Supply

=

Demand

Simple sekali kan? Yang perlu kamu lakukan hanya mencari titik equilibrium atau diterjemahkan menyediakan sesuatu (suppy) yang sesuai dengan keinginan pewawancara (demand) maka kamu pasti lolos. Nah dalam kasus saya itu, ternyata supply yang saya tawarkan dengan demand yang pewawancara inginkan tidak klop. Mungkin dimata mereka saya terlalu realistis dan yang mereka inginkan adalah orang idealis. Dulu terang – terangan saya bilang kalau saya muak dengan demo, sedangkan yang mereka cari mungkin adalah seorang yang bisa menjadi orator dalam sebuah demo. Ya logislah kalau saya di tendang oleh mereka. :idea:

Pernah juga di wawancara menjadi asisten dosen saya di tolak. Kenapa? karena walaupun saya punya nilai A dalam matakuliah itu dan nilai ujian saya adalah salah satu yang terbaik di kelas, posisi saya saat itu adalah mahasiswa yang baru aktif setelah cuti panjang karena sakit. disamping itu slot yang tersedia cuma satu, sedangkan ada teman saya yang lebih dekat dengan para pewawancara. Jadi, walau nilai dia B dialah yang terpilih. Nah dalam kasus ini penyebabnya bukan supply saya tidak sama dengan demand tetapi mungkin pewawancara menemukan supply dengan opportunity cost yang lebih baik.

Bagaimana menurutmu kawan? simple sekali kan? tapi pada prakteknya teori gampang ini dapat diterjemahkan menjadi berjuta strategi lho. Karena itu, silahkan ajukan pertanyaan2an yang membuat saya terus menulis dan terus simak blog ini ya. :idea:

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.