Tag Archive for Beasiswa

Mentalitasku

Aku adalah seorang pemimpi. Secara otomatis aku adalah seorang penantang. Aku menantang jerat dan belenggu yang menghalangiku.
Aku menantang untuk mengalahkan kebodohanku dan kemalasanku hingga penatku otaku. Hingga merah mataku. hingga habis tenagaku.

Ah puisi picisan lagi. Tidak ada yg menghargai karya buatan mahasiswa dengan nilai bahasa Indonesia D. Ha3x lucu kan? Tertawalah. Aku suka membuat orang tertawa. Tapi sobat, cobalah kau lihat CV ku dan kau sendiri yang akan menelan tawamu.
Kenapa lagi sobat? Merasa tak bisa mengalahkanku? Ah sobat, ingatkah 10 detik lalu kau menertawakanku sebagai manusia yg lebih rendah darimu. Apakah dalam 10 detik kau tiba2 lebih rendah dari orang yg kau tertawakan? Sobat, tanpa mentalitas penantang maka rasa sebalmu itu akan selalu menghantuimu seumur hidupmu. Kau akan menemui para penantang lain yg siap berjuang untuk maju dan kau akan selalu menjadi sampah yg tertinggal di belakang.


Itu tulisan yang aku buat setahun yang lalu untuk menyemangati diriku mengejar beasiswa. Kalau dibaca sekarang rada naif sich, tapi tak apalah. Katanya kan masa muda masa yang berapi api.

Tapi lihalah sobat, betapa optimisnya aku waktu itu. Pasti waktu itu dulu lagu favoritku adalah :

Sekarang, tanpa terasa aku sudah di Amerika dan malunya aku saat mendengar lagunya yang kak Rhoma yang berjudul :

sekarang ini aku kebanyakan begadang untuk hal remeh – temeh seperti ribut – ribut   ber jam – jam ngurusin facebook dan social network sejenisnya…

Beneran dech, malu ndengerin lagunya opa Rhoma itu kalau homework setumpuk itu belum diselesaikan atau kalau belum belajar.

Jadi sobat, jika kamu masih muda (serasa udah tua aja :oops: ) gapailah seluruh kemungkinan yang bisa kamu peroleh. Gantungkanlah cita – citamu setinggi mungkin. Beranilah bermimpi.! Bersemangatlah untuk menggapai impianmu! Karena masa masa penuh tekanan itu kelak akan engkau rindukan. Seperti sekarang,  aku merindukan masa – masa penuh tekanan dalam mengejar beasiswa ini.

Ayo sobat, terus maju! :idea: :idea: :idea: :idea:

Teori 3 x 3 – Overview

Teori ini saya peroleh dalam kelas business communication di Amerika. Output dari penguasaan teori ini adalah kamu bakal bisa menghasilkan tulisan yang terstruktur dan meyakinkan. Jadi, untuk kamu yang sedang pusing membuat tulisan baik itu berupa surat atau esai, maka saya sarankan kamu menggunakan teori ini.

Untuk pembahasannya masing – masing point, silahkan tunggu tulisan berikutnya. Tetapi untuk diskusi silahkan tinggalkan komentar. :) Oh ya, kelihatannya teori ini keren ya, tapi setelah saya pahami dasar teori ini ga banyak berbeda dengan logika yang sering dipake pak carik di sebelah kantor camat di rumah saya kok :D

Hampir lupa, teori ini saya ambil dari bukunya Mary Ellen Guffey yang berjudul “Business Communication Process and Product” edisi ke 6.

Teori ini saya tulis ulang di blog ini dengan beberapa penyesuaian agar mudah di baca dan di mengerti oleh para pembaca blog saya.

Kojack Diwawancara AMINEF (2)

Jika kamu menerima email seperti pada posting sebelumnya, maka hal yang saya sangat sarankan (red : yang dulu sudah juga saya lakukan) untuk dilakukan adalah bersyukur. Bersyukurlah dulu. ;-)

kamu akan merasa sangat excited dengan pencapaianmu. kamu ingin segera menyiapkan segalanya untuk wawancara, tapi bersabarlah. Bersabarlah karena untuk itu akan datang. yang perlu kamu lakukan sekarang adalah nikmati dan resapi semua kebanggaan itu dulu, lalu bersyukurlah bahwa tulisanmumu telah berhasil membuat pihak AMINEF terkesan. Bersyukurlah karena do’amu dan do’a orang  – orang yang menyayangimu dikabulkan tuhan. Bersykurlah dan berbagilah kebahagiaan dengan orang – orang yang kamu sayangi, tunjukan surat undangan wawancara itu ke orang tuamu lihat ekspresi senang diwajah mereka dan kebanggaan dimata mereka, rasakan antusiasme mereka, maka momen itu akan sangat berkesan untukmu.

*****

Saya ingat, sore itu saya sedang menghabiskan waktu di depan komputer untuk mencari tantangan baru. Saya ingat betul bahwa saat itu telpon rumah saya bordering. Ibu saya mengangkatnya.

Seorang wanita bertanya, “apa bapak Perwira ada?”

Ibu menjawab, “iya, ada. Ini dengan siapa?”

Wanita itu menjawab, “ini dari AMINEF bu.”

Ibu menjawab “Oh ya, ini dengan ibunya. Mohon tunggu sebentar. Saya panggilkan anaknya.”

Ibu berteriak “wirrrr, cepetan kedepan. Ada telp dari MINEF ini.”(red : saya ga salah ketik lho, ampe sekarang juga mama masih sering keliru saat menyebut AMINEF)

Aku yang lagi terbengong di kamar menyahut tak percaya, “hah? Siapa mah?”

Ibu menjawab, “itu lho, beasiswa America mu.”

Aku secara sepontan berdiri, seperti pelari olimpiade jarak pendek aku spontan sprint dari kamarku ke ruang keuarga untuk meraih telpon itu.

“hallo” saya menyapa sambil ngos ngosan.

“hallo, bapak perwira?” sahut suara renyah di seberang sana

“iya, ada apa ya?” pertanyaan bodoh dari orang yang over excited

“telpon genggam bapak kok ga bisa dihubungi?” suara diseberang bertanya.

“wah sedang di charge” saya menjawab seadanya padahal aslinya ga sadar kalau HP nya mati.

“bapak sudah buka email?” kali ini dengan dia bertanya dengan nada menahan senyum

“belum. Ada apa ya?” saya menjawab dengan polos

“Oh, ya sudah. Begini, bapak dinominasikan untuk program CCIP. Untuk keterangan selanjutnya tentang wawancara silahkan cek email anda” kali ini dia menurunkan tempo dan intonasinya. Elegan sekali.

“beneran bu?” saya menjawab dengan nada polos.

“iya” dia menjawab seperlunya.

“oh ya, bapak harus datang saat wawancara.” dia menambahkan.

“kapan wawancaranya?” pertanyaan bodoh dari orang yang nervous

“cek email pak, semua info ada di email pak.” Jawaban yang bijak dari pertanyaan bodoh saya

“oh ya, terimakasih bu.” Berlagak cool.

“kembali pak, kalau ada apa apa silahkan email kami atau telp ya.”

“siap bu.” Saya menjawab dengan gaya hansip setelah pelatihan militer.

Well, sebuah percakapan yang canggung tapi mampu meledakan rumah kami sore itu. Oh, bahagianya saya saat itu. Saya tertawa, tertawa sangat lepas. Ibu saya bingung. Takut anaknya mendadak gila.

Saya bilang ke mama : “ma, aku diundang wawancara.” Dan aku kembali tertawa, tertawa bersama ibu dan adikku. :lol: :lol: :lol:

Kojack diwawancara (1)

Weee….

Saya nich harusnya belajar buat night class tapi kok hawanya masih pengen nulis. Mungkin gara gara kopi yang saya minum kali ya… jadi bersemangat! (red : ga bisa tidur tepatnya)

Well, maraton postingan saya akan dimulai lagi. Kali ini dengan topik “wawancara di AMINEF untuk program CCI”.

untuk yang belum baca postingan terdahulu dalam menyiapkan diri mendaftar beasiswa maka silahkan buka ini

Sebagai pembukaan posting pertamax. Setelah mengirimkan semua aplikasi lengkap, jika kamu beruntung maka sekitar bulan desember maka kamu akan memperoleh email seperti ini :

Surat serupa juga akan datang buat kamu di rumahmu via jasa kurir tiki. Jadi, buat kamu yang sedang apply program ini, selamat dag dig dug der dech.

Kojack Menyiapkan Bahasa Inggris (5)

melanjutkan posting sebelumnya disini

maka langkah pertama yang saya lakukan adalah membuat list logistik yang sekiranya bakal saya butuhkan.

Kurang lebih, list saya adalah seperti ini :

  1. Pacar :mrgreen:
  2. Buku TOEFL
  3. MP3 Player

List yang aneh ya? tapi saya membuat list ini bukan tanpa alasan lho… yok mari dibahas.

1. Pacar

Mungkin kamu bertanya tanya, kenapa saya butuh pacar untuk belajar bahasa inggris? Ha… sepertinya tidak ada hubungannya, padahal sebenarnya ini berhubungan erat. Kalau saya sedang sibuk seperti ini saya membutuhkan seseorang “asisten” yang bisa multi tasking. Dia haruslah cukup pintar untuk mengikuti pace saya, dia juga harus cukup berbesar hati untuk dijadikan prioritas kedua, dia juga harus punya fisik yang prima karena bakal sangat sering saya minta tolong kesana kemari, dan dia harus cukup sabar untuk menjadi tempat keluh kesah saya serta mampu menguatkan hati saya untuk terus maju :idea: . Nah, sekarang bisa dilihat kan kenapa pacar penting buat saya? :mrgreen:

berita baiknya adalah, pacar saya sekarang sudah memenuhi semua kualifikasi tersebut. Sedikitnya, dia bisa menggantikan peran tutor dan mentor yang tidak bisa saya nikmati. Walau dia juga kurang jago dalam bahasa inggris tapi pacar saya itu adalah motivator saya, dia selalu menyemangati saya untuk jangan menyerah dan membantu saya.

Hebat kan pacar saya itu? :mrgreen:

2 Buku TOEFL,

saya ingat waktu itu saya menghabiskan waktu berhari – hari di depan internet untuk memutuskan buku mana yang akan saya beli. Mengingat, buku TOEFL tidaklah murah jadi saya tidak mau salah beli. Walaupun, pada prakteknya saya sempat salah beli buku…. tapi kemudian saya mendapatkan buku yang cukup enak untuk saya gunakan. Penampakan bukunya adalah sebagai berikut :

soal buku yang salah beli itu sepertinya tidak etis dibahas disini :mrgreen:   ntar dikira mencemarkan nama baik. (red : pengarangnya sich pengarang lokal).

Saya merekomendasikan buku ini karena memang kontennya terstruktur, peningkatan level dari satu sesi ke sesi lain juga smooth sehingga lebih nyaman bagi saya untuk belajar. Didalam buku ini juga terdapat 6 keping CD (red : koreksi kalau salah ya) yang berisi soal-soal untuk bab listening.

Dimana saya memperoleh buku ini? saya peroleh dari hunting di pusat perbelanjaan shopping Jogja (red : sekarang ganti nama ya?) bersama ayah. Saya ingat dulu setelah perdebatan yang sengit dengan  alm.ayah (red : karena emang mahal), dan tawar menawar yang alot dengan penjual akhirnya berpindahlah kepemilikan buku ini ke tangan saya ;-) .

oh, kalau ngomongin ini jadi keinget almarhum ayah….. :| jadi sedih…

tapi, lanjooootttt!!!!

3. MP3 player

kenapa saya butuh gadget satu ini? karena saya menggunakannya untuk melatih dan membiasakan kuping saya dengan bahasa inggris. Dulu, alih alih mendengarkan lagu dari band Indonesia :mrgreen: macam Ice Tea  Twelve saya memilih mendengarkan brita yang saya Download dari VOA. berita itu dilengkapi script sehingga membantu saya mengikuti apa yang diucapkan oleh pewarta. Pokoknya waktu itu berhari hari kuping saya disiksa oleh berita berita itu dech, tiap berangkat-pulang kuliah dan tiap istirahat. bukan kontennya yang saya simak, tapi feeling-nya yang saya cari. :mrgreen: . andai saya masih punya linknya pasti saya share. Maaf ya… Linknya hilang.

Oh ya, berita baik untuk saya adalah saya tidak perlu beli MP3 player saya karena “si butut” mampu mengakomodasi kebutuhan saya ini. btw, ini dia penampakan si butut waktu masih baru dulu  :mrgreen:

Si Butut »

Sebagai Rangkuman, Tips dari sayadari postingan ini adalah :

1. Cari supporting

Cari seseorang yang bisa menguatkanmu secara real time, bisa pacar, keluarga atau sahabat. Kamu juga bisa menemukan Supporting man di tempat tempat kursus profesional :idea: . lebih mantep lagi kalau kamu bisa menemukan seseorang yang dwi fungsi. selain sebagai supporting man, juga sebagai partner atau tutor berbahasa inggris.

2. Beli Buku yang Bonafit

Berdasarkan pengalaman saya, nyesel juga kalau salah beli buku :cry: sayang uangnya eu…. (red : harga satu buku bisa buat makan 1 minggu :cry: ) Buku yang kamu pelajari akan menjadi elemen penting, terlebih jika kamu harus belajar sendiri untuk test TOEFL.

3. Gunakan Berbagai Media

Be Creative!!! sekarang teknologi sudah maju! Gunakan berbagai media yang akan memudahkanmu belajar. KUNJUNGI BLOG INI TIAP HARI!!! (red : promosi… he3)

4. Konsisten

Jika kamu sudah menetapkan metode belajarmu dan jadwal belajarmu maka lakukan dengan konsisten. Percaya dech, ini ga akan mudah… dulu saya menetapkan waktu belajar saya adalah sebelum subuh, dan jujur pada awalnya semangat, sampai tengah – tengah mulai dech… Bolong-bolong :razz: tapi saya cukup konsisten kok :mrgreen: . no body perfect kan? jadi bolong 1-5 hari dalam 2 bulan masih di tolerir lah…. :mrgreen:

well, dengan metode -metode itu akhirnya saya bisa menyuntikan tambahan 50 point pada hasil test TOEFL-ITP saya, sambil menyelesaikan kuliah dan skripsi saya.

Nah, sekarang  jika saya yang punya nilai “D” dalam tata bahasa ini bisa. Kenapa kamu tidak?

Kojack Menyiapkan Bahasa Inggris (4)

Saya bukanlah orang yang jago dalam bahasa inggris, sungguh.
Saya juga bukan orang yang diberkati bakat linguistik yang besar dalam menguasai bahasa. Ya, paling tidak jika parameternya penguasaan bahasa ibu (red : Bahasa Indonesia) maka cukuplah nilai “D” di transkrip saya menjelaskan kemampuan saya dalam tata bahasa. :| (red : walau beberapa tahun kemudian saya menang beberapa lomba karya tulis sich :twisted: )

Tapi kawan, saya punya jurus simpanan yang saya yakin akan menjadi modal  berharga untuk belajar bahasa inggris. Modal saya itu sebenarnya simple yaitu : saya tahu saya tidak pintar, maka itu saya mau belajar. Sebelum dimasak, modal dasar itu saya rendam dulu dengan sesuatu yang disebut Konsistensi untuk mendapatkan tekstur yang lembut. Guna menguatkan rasa, tak lupa saya tambahkan  sedikit sifat  dasar saya yang over confidence. Tahukah kawan, sedap nian kombinasi tiga hal itu dalam menolong saya mempelajari bahasa Inggris. :mrgreen:

Kembali ke pokok bahasan. seperti yang kita tahu bersama dalam posting sebelumnya bahwa salah satu syarat dari program CCIP memiliki nilai TOEFL ITP > 500. Well, jika menilik hasil test TOEFL ajaib saya yang hanya 467 dan saat itu sudah bulan september/oktober maka saya hanya punya 2-3 bulan untuk “mennyuntikan” 33 point sekaligus menyiapkan persyaratan lain seperti essay, translate ijazah dll. :roll: .

Sungguh, jika memungkinkan. Saat itu saya ingin mengikuti kurus bahasa Inggris. Minimal, jika saya mengikuti kursus itu maka saya akan memiliki seseorang yang bisa menjadi mentor saya. Seseorang yang bisa memberi petunjuk dalam menyusuri labirin bahasa inggis, membantu saya mengoreksi kesalahan-kesalahan saya, seseorang yang akan mengajarkan aturan – aturan grammar runyam yang selama ini tidak saya pedulikan, dan tentu saja seseorang yang akan menyemangati saya saat saya mulai “muak” belajar bahasa inggris intensif. Tetapi apa mau dikata, berhubung disaat yang sama saya juga harus kejar setoran menyelesaikan beberapa mata kuliah yang terkatung – katung (red : akibat sempat cuti akademik) plus saya harus mulai mengerjakan skripsi saya. Ditambah lagi dengan letak geografis kampus saya yang jauh dari peradapan (red : udik) dan kondisi lalu lintasnya yang Bogor banget (red : macet dan serabutan) membuat saya memutuskan untuk tidak mengikuti les bahasa inggris.

*****

Ada beberapa konsekuensi dari keputusan yang saya ambil. Konsekuensi utama tentu saja saya akan kehilangan kesempatan mengakses fasilitas mentoring dan tutoring yang disediakan tempat les. Konsekuensi kedua adalah saya akan belajar “sendiri“. Sendiri yang saya maksud disini adalah benar – benar sendiri. Maaf kata, tapi mengingat kondisi lingkungan saya yang didominasi orang – orang yang  sangat fasih berbahasa jawa-sunda-batak-makasar dan Indonesia tanpa saya bisa temukan orang – orang berbahasa inggris maka saya benar – benar ditempatkan di posisi “saya harus belajar sendiri“.

Setiap pilihan pasti punya dua sisi ; sisi positif dan negatif. Sebenarnya, ada juga beberapa kelonggaran yang saya peroleh seperti saya akan mendapat lebih banyak kebebasan untuk mengatur waktu belajar saya dan metode belajar saya. Walaupun sebenarnya kelonggaran itu tidak bisa disebut sebagai nilai tambah juga karena saat itu saya benar blank dengan cara dan metode belajar yang harus saya gunakan.

Oh ya, berhubung saya rada sibuk dengan kelas disini dan sepertinya postingan ini bakal panjang maka postingan ini akan saya bagi menjadi dua artikel. Agak melenceng dari rencana sich, tapi ga apalah… positingan selanjutnya akan berupa share dan tips metode belajar yang saya tempuh. :mrgreen:

Thanks for reading,

Kojack Menyiapkan Bahasa Inggris (3)

Empat Ratus Enam Puluh Tujuh, yaps 467.”

Itu merupakan nilai yang saya peroleh dari Test TOEFL Prediction Ajaib yang saya ikuti. Sebenarnya bukanlah nilai yang buruk, paling tidak jika dibandingkan dengan teman – teman saya lang lain. Terlebih, memang saya mengikuti test itu tanpa persiapan apapun dan tujuan saya memang “hanya” untuk mengukur dimana posisi bahasa inggris saya.

Nah, mungkin kamu bertanya,”Dengan nilai segitu kok kamu bisa daftar CCIP?”. Seperti yang kita tahu bahwa salah satu syarat CCIP itu harus punya nilai TOEFL>500.”kok bisa?”

Begini teman, setelah saya niatkan mendaftar CCIP tentu saja saya mengambil prediction TOEFL test lain yang tentu saja tidak seajaib test sebelumnya sebagai alat ukur kemampuan diri saya.Saya mengambil prediction TOEFL test di UPT Bahasa IPB  yang mereka sebut  sebagai Placement test. Awalnya sich saya ikut itu karena ini merupakan syarat ikutan les buat mendongkrak TOEFL saya, tapi karena beberapa alasan maka saya batalkan keinginan ikutan les itu. Untuk metode belajar TOEFL, akan saya bahas di posting berikutnya.

Oh ya, Prediction TOEFL Test yang kedua ini lebih menyenangkan dan menurut saya nilai yang diperoleh lebih bonafit dan akurat dibanding yang pertama. Ya, secara biaya yang saya keluarkan juga lebih banyak (Red : Rp.50.000,- tanpa makan siang) sehingga nilai yang saya peroleh juga lebih bisa dipercaya. nah, mungkin kamu penasaran, berapa nilai yang saya cetak di test ini? nantikan posting saya selanjutnya tiga hari dari sekarang. :mrgreen:

Kojack Menyiapkan Bahasa Inggris (1)

Seperti yang sudah kita tahu bersama, bahwa kita ini sudah belajar bahasa inggris semenjak SMP sampai SMA dan ditambah lagi dengan tiga sks wajib saat kuliah. Dengan menghabiskan waktu tujuh tahun lebih, kenapa masih saja bahasa inggris menjadi momok bagi saya saat mendaftar sebuah beasiswa?

:mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

Sebuah pertanyaan yang menggelitik untuk membuka posting saya selanjutnya tentang proses mempersiapkan diri melamar beasiswa CCIP. Posting ini akan bercerita tentang pengalaman saya “kejar setoran” belajar bahasa inggris untuk mendongkrak nilai TOEFL saya dalam dua bulan. Oh ya, supaya anda tidak bingung dalam mengikuti post ini silahkan baca juga artikel saya yang lain di blog ini, terutama artikel “Bahasa Inggis + Beasiswa + Kojack” dan “Kojack Mempersiapkan Syarat Administrasi”

Seperti yang saya bilang, petualangan mengejar beasiswa saya dimulai dengan sebuah “keisengan” untuk mengikuti test TOEFL prediction murah yang di bundle dengan seminar AMINEF di IPB. Waktu itu saya sendiri kurang nggeh apa itu AMINEF, jadi niat saya ikut seminar itu hanyalah ikut tes TOEFL prediction (red : tiketnya Rp. 20.000,-, murah kan?) untuk mengetahui kemampuan bahasa inggris saya tanpa belajar.

Saya masih ingat try out itu dibuka dengan berapi – api dan hangat oleh dua pembawa acara yang sepertinya masih mahasiswa juga. Semangat yang cukup kontras dengan dinginnya suhu ruangan yang gila – gilaan dan  satu jam molornya waktu mulainya acara dari jadwal aslinya. Mahasiswa dan mahasiswi itu tampak klimis dengan setelan formal yang serba matching, ditambah dengan gaya dandanan yang tampaknya sangat “terurus”, potongan rambut yang rapi dan gaya, serta senyum khas tuntutan pekerjaan tanpa dibayarnya itu yang selalu terkembang pada semua orang. :mrgreen:

Acara dilanjutkan dengan sesi membosankan oleh seorang bapak gendut yang menjelaskan tentang TOEFL dengan gaya sales peralatan rumah tangga. Suhu yang dingin akibat AC yang terlalu kencang, ceramah membosankan yang didramatisir layaknya dongeng anak – anak ditambah posisi duduk saya yang kebetulan ada di belakang engan sukses mengantarkan saya pada sebuah kondisi yang sering disebut sebagai ngantuk yang tak tertangguhkan. Satu hal yang sempat menarik minat saya adalah bagaimana bapak itu mampu mengkonversi nilai TOEFL Prediction jualannya dan nilai TOEIC menjadi kemungkinan nilai TOEFL-ITP dengan persamaan matematika canggih yang namanya “persamaan saya rasa…”. Benar – benar presentasi yang canggih luar biasa di depan para mahasiswa yang katanya adalah “intelektual muda berotak encer”. Hebat bukan buatan bapak itu.

Dengan terkantuk – kantuk, sayup – sayup saya mendengar bapak itu menyudahi gaya presentasi sales peralatan rumah tangganya dan mulai berubah gaya menjadi sales produk Multi Level Marketing yang mulai menawarkan mimpi – mimpi yang bisa diraih oleh prospeknya jika “join” (red : kenapa ga “bergabung” aja? Karena “join” terdengar lebih renyah dan import. Bukannya bisnis ini adalah bisnis pencitraan?) dengan “waralaba”-nya. Bagi saya sich, perubahan gaya ini berarti menandakan bahwa presentasi ini akan segera selesai dan waktunya pindah ke sesi berikutnya.

Sesi berikutnya adalah presentasi tentang AMINEF. Seorang wanita setengah baya maju untuk berpresentasi. Perbedaan dari presentasi sebelumnya adalah ibu ini terlihat sangat terdidik dari cara dia menyampaikan presentasi yang mirip dengan cara dosen mengajar di kelas. Persamaan dari presentasi sebelumnya adalah saya tetap ngantuk.

Ibu ini menjelaskan secara garis besar bagaimana berkuliah di US dengan biaya sendiri (red : saya tidak tertarik dengan bab ini karena saya tidak punya uang yang cukup) serta beasiswa Fulbright yang tersedia untuk indonesia (red : yang ini saya tertarik). Kali ini dengan mata lebih segar saya bisa menyimak ibu ini mengakhiri presentasinya dan ini berarti acara berpindah ke sesi yang ditunggu yaitu tes TOEFL prediction.

Bersambung…..

Lanjutan Artikel ini hanya bisa di dibaca oleh kamu yang telah meninggalkan komentar dan bergabung pada Kojack’s Fan di Facebook

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.