Inti Dari Memenangkan Sebuah Wawancara

Malam ini di saya di tanya oleh seorang rekan, “kak Kojack, intinya biar berhasil dalam wawancara apa sich?” nampaknya dari berbagai kompetisi yang pernah diikutinya, dia banyak mentok di tahap wawancara.

Buat saya, wawancara adalah bagian dari sebuah kompetisi. Banyak orang yang suka dengan wawancara, termasuk saya, tetapi saya pikir lebih banyak orang yang frustasi terhadap wawancara.Kenapa bisa begitu? karena percaya atau tidak, wawancara itu bisa mengakibatkan efek trauma. Jika sudah merasa melakukan hal terbaik tetapi terus – terusan gagal dalam sebuah wawancara dan tidak mengerti kenapa dirinya gagal, maka lama – lama orang jadi krisis kepercayaan diri saat wawancara. Jika berkelanjutan, wawancara bisa menjadi sebuah monster yang memicu sebuah fobia.

Saya pernah merasakan fobia wawancara saat tingkat satu di IPB. Dulu saya di tolak berbagai lembaga kemahasiswaan kampus. Saat itu perasaan saya telah melakukan yang terbaik dengan menjadi diri sendiri tapi entah kenapa saya selalu gagal. Akhirnya saya malas sendiri ikutan seleksi yang ada wawancaranya karena takut kecewa lagi, lagi dan lagi.

Akhirnya saya renungkan dalam – dalam fenomena itu. Sebenarnya apa sich esensi wawancara? sampai pada akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulang bahwa wawancara itu adalah bagian dari marketing, marketing diri sendiri lebih spesifiknya. Karena itu inti memenangkan wawancara sama dengan inti dari marketing yang di rumuskan menjadi:

Supply = Demand

Supply

=

Demand

Simple sekali kan? Yang perlu kamu lakukan hanya mencari titik equilibrium atau diterjemahkan menyediakan sesuatu (suppy) yang sesuai dengan keinginan pewawancara (demand) maka kamu pasti lolos. Nah dalam kasus saya itu, ternyata supply yang saya tawarkan dengan demand yang pewawancara inginkan tidak klop. Mungkin dimata mereka saya terlalu realistis dan yang mereka inginkan adalah orang idealis. Dulu terang – terangan saya bilang kalau saya muak dengan demo, sedangkan yang mereka cari mungkin adalah seorang yang bisa menjadi orator dalam sebuah demo. Ya logislah kalau saya di tendang oleh mereka. :idea:

Pernah juga di wawancara menjadi asisten dosen saya di tolak. Kenapa? karena walaupun saya punya nilai A dalam matakuliah itu dan nilai ujian saya adalah salah satu yang terbaik di kelas, posisi saya saat itu adalah mahasiswa yang baru aktif setelah cuti panjang karena sakit. disamping itu slot yang tersedia cuma satu, sedangkan ada teman saya yang lebih dekat dengan para pewawancara. Jadi, walau nilai dia B dialah yang terpilih. Nah dalam kasus ini penyebabnya bukan supply saya tidak sama dengan demand tetapi mungkin pewawancara menemukan supply dengan opportunity cost yang lebih baik.

Bagaimana menurutmu kawan? simple sekali kan? tapi pada prakteknya teori gampang ini dapat diterjemahkan menjadi berjuta strategi lho. Karena itu, silahkan ajukan pertanyaan2an yang membuat saya terus menulis dan terus simak blog ini ya. :idea:

5 comments

  1. ANGGA YUDHISTIRA says:

    nice… i'd like to try it for my job interview… wish me luck bro… n_n

  2. nadiafriza says:

    telat baca nih. baru aja tadi wawancara hehe..

    infonya gw simpan buat wawancara2 selanjutnya deh kak. thanks ya!

  3. Fir'aun NgebLoG says:

    menarik juga tuch ulasannya… :D

  4. julicavero says:

    jadi inget pelajaran smu neh..hehe

  5. Kojack says:

    emang gitu, simple banget kan?

Leave a Reply

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.