Archive for November 2010

Project “T” For Tolol

Apa yang akan kamu lakukan saat suhu di luar mencapai 32 derajat? Berjemur? Maen bola bareng temen? atau maen petak umpet di kebon?

Sekarang kita rubah sedikit parameternya, apa yang akan kamu lakukan saat suhu di luar mencapai 32 derajat Fahrenheit? tentu saja kamu ga akan melakukan kegiatan diatas tho? Mungkin malah kamu ga akan mau melakukan kegiatan outdoor. Kenapa? karena 32 derajat Fahrenheit itu setara dengan 0 (nol) derajat Celsius. Busyet, kulkas ku di rumah aja paling 4 derajat Celcius.

Nah, logika pintarnya kawan, ini belum winter yang berarti suhu masih mungkin turun lebih jauh lagi. Logika tololnya, ada seorang anak dari daerah tropis yang seumur hidup selalu menikmati di panggang suhu diatas 25 derajat Celsius beraktifitas outdoor.

DSC00241

Apa yang dia lakukan di outdoor? Sebenarnya sich tujuan mulianya adalah untuk mengecek kesiapan perlengkapan tempurnya menghadapi winter. Alat tempur yang tadi digunakan antara lain :

  • Sepatu Boot Timberland White Ledge + kaos Kaki
  • Celana Jeans Cardinal + Sabuk
  • Kaos Oblong Dagadu + Sweeter + Jaket Colombia Titanium
  • Kaos Tangan
  • Topi

Hasil dari ujicoba itu adalah sebagai berikut :

  • Sepatu Boot Timberland White Ledge + kaos Kaki

Tidak percuma aku mengalokasikan sebagian besar uang jatah baju ke benda ini. Benda ini bekerja dengan sempurna. mampu menahan dingin dan memberi kehangatan pada kaki. Pengalaman ini membuat saya merekomendasikan boot merk Timberland

  • Celana Jeans Cardinal + Sabuk

Keduanya asli Made In Indonesia. Saya bawa keduanya dari Indonesia lho, sebagai bentuk kecintaan saya atas produk buatan dalam negeri. Keduanya saya beli di pasar Tradisional Salaman deket rumah. :) Sayangnya mungkin karena di desaign untuk iklim tropis maka celana ini tidak bisa menahan dingin. Dalam waktu cepat, lulutku sudah bergetar karena kedinginan. Sepertinya sich perlu lapisan termal dech kalau keluar.

  • Kaos Oblong Dagadu + Sweeter + Jaket Colombia Titanium

Kombinasi ketiganya bekerja sempurna. Aku curiga sich karena ini karena jaket Colombianya yang memang jempolan. Harga memang ga bohong, walau pas beli di bagian barang diskon aku ngga ngeh Colombia itu merk terkenal. Malah temenku yang ngasih tahu itu merk terkenal. hihihi… maaf saya memang ga begitu peduli ama merk sich, asal barangnya bagus, harganya cucok, lagi butuh, ada duit ya comot saja!

  • Kaos Tangan

Ga tahu merknya, dikasih gratisan sich. tapi anget banget! kalau ga pake kaos tangan sebaiknya tangan sering – sering di parkir di saku jaket.

  • Topi

Ini dia biang masalahnya. pelajaran yang aku peroleh adalah besok – besok kalau keluar ruangan pake topi yang menghangatkan telinga. Daun telinga tadi rasanya kayak retak karena membeku. Sumpah, sakit banget!

sekian review peralatan tempur saya mengarungi winter. Semoga pengalaman ini bisa membantu!

Avatars Baru

Yeee haa! Aku punya avatar baru!

Apaan sich avatar? Avatar itu semacam gambar yang mendeskripsikan kamu. Biasanya di pake di Instant Messaging. Mungkin dengan melandanya demam facebook orang jadi lebih ngerti dan ngeh kalau aku sebut avatar itu semacam profile picture.

Ih, Avatarnya lucu Banget. Gimana sich cara bikinnya?

Gampang kok, maen aja ke sini lalu ikutin langkah – langkah yang mereka sediakan. kamu bisa mengkustomasi avatar yang paling kamu banget disana dalam beberapa klik. Jadi buruan bikin avatar kamu sendiri!

nb : Ada yang bisa ngebantuin aku ngerubah gambar ini menjadi gambar vektor ga ya?

Brain Drain

Apa sich ini?

ini adalah fenomena yang banyak terjadi akibat dari pembangunan dunia yang tidak merata dimana banyak sumber daya manusia unggul di negara berkembang atau tertinggal yang hijrah ke negara maju.

Lalu dimana letak masalahnya?

Kojack coba menganalisis dari berbagai sudut pandang nech ya. Kalau ada yang lebih expert di bidang ini mohon Kojack diberi masukan.


Dari sudut pandang orang luar di negara asal :

Nich orang ga’ nasionalis banget! udah di sekolahin jauh – jauh, begitu dapet ilmunya ga dipake untuk membangun negara sendiri. Malah dipake untuk kerja di negeri orang yang pasti bayarannya lebih gede. Egois banget sich!”

Dari sudut pandang orang luar di negara yang di datangin :

“Nich orang dari negara antah berantah bisa apa? Dateng – dateng cuma nyolong kerjaan strategis disini aja”

Dari sudut pandang pelaku/korban :

“Ilmu yang aku pelajari selama ini bisa di terapin di Indonesia ngga ya? Apa indonesia punya alat – alatnya? 7 tahun aku belajar mati – matian tentang ilmu nuklir, eh Indonesia ngga punya reaktor nuklir. Jangan – jangan ntar pulang cuma jadi juru tulis di kantor lagi, kalau cuma begitu sich lulusan SMA juga bisa. Duh, bingung aku. Pulang ngga ya…. Secara profesor udah nawarin kerjaan di badan nuklir eropa yang jelas – jelas disitu aku bisa nerapin ilmu – ilmuku.”

Nah lo? Kalau udah begini siapa yang salah? Endingnya sich paling enak kita ramai – ramai menyalahkan pemerintah! Hahaha….

Yak, sekarang mari berdiskusi ;-)

Millionare Next Door

Ga percuma juga ternyata 6 bulan sekolah di US. Beberapa ilmu yang saya peroleh benar – benar membuka mata saya tentang kemungkinan – kemungkinan baru dalam hidup. Salah satu ilmu itu adalah merencanakan masa tua dalam mata kuliah personal finance.

Kontras dengan model pikir orang Indonesia yang berusaha menyerahkan pengelolaan penghasilan masa tuanya pada pemerintah, di Amerika setiap orang di tuntut untuk mengelola keungannya sendiri, termasuk penghasilan masa tuanya kelak. Karena itu, alih – alih seperti di indonesia yang berlomba – lomba menjadi PNS agar kelak dapat pensiun, mereka memilih mengajarkan personal finance sejak dini sehingga generasi muda mengerti cara menyiapkan masa tuanya kelak.

Dalam personal finance ini diajarkan tentang bagaimana mengelola keungan termasuk mempersiapkan pensiun. Ternyata banyak cara yang bisa di ambil untuk mempersiapkan pensiun. Ada berbagai tools investasi yang bisa digunakan mulai dari saham, reksa dana sampai emas.

Untuk yang tertarik pada topik ini, salah satu dosen saya yang juga seorang konsultan personal finance menyarankan untuk membaca “The Millionare Next Door“. Jika membaca buku ini, lupakan tentang motivator – motivator naif yang berteriak – teriak “Menjadi kaya adalah hak semua orang!”. Kenapa? Karena menjadi kaya bukan hak semua orang. Menjadi kaya adalah hak bagi orang orang yang bersedia menanggung resiko yang menyertainya.

Buku ini sendiri disusun berdasarkan sebuah research yang bisa dipertanggung jawabkan oleh Thomas J. Stanley, Ph.D. dan William D. Danko, Ph.D. dari Harvard University. Dengan membaca buku ini dan memahami data – data yang ada di dalamnya maka bisa dilihat perbedaan cara pikir dan cara hidup antara orang kaya dan orang yang tidak kaya. Bahkan, buku ini bisa mempengaruhi deskripsimu tentang apa itu “kaya”. Ternyata bagi sebagian besar orang Amerika yang memiliki kekayaan lebih dari satu juga dollar diskripsi kaya dan cara hidup mereka tidak seperti yang dimunculkan di film – film Hollywood lho…

Nah, kawan – kawan siapkah kita sebagai generasi milenia belajar untuk menyiapkan pensiun kita sendiri kelak? Dan apakah pengertian kaya menurut kalian? Apakah kaya menurut kalian itu sama dengan deskripsi kaya menurut sinetron yang punya mobil super sport dan rumah mewah?

Ayo kita renungkan sama – sama. :)

Kering Ide

“Kering ide”, itulah masalah yang akan dihadapi semua penulis mulai dari kaliber amatir seperti saya sampai kaliber international best seller. Nah, ini merupakan kondisi yang sedang saya hadapi saat ini. Setelah kejar setoran posting selama liburan akhirnya sumur ide saya kering juga. :(

ada yang bisa bantu saya ga ya? pengen menulis tapi tidak ingin membuat tulisan yang sifatnya cuma sebagai sampah internet soalnya dulu udah di niatin pengen nulis sesuatu yang berguna di blog ini. :roll:

Sebenarnya, akhir2 ini saya tetap menulis, tapi kebanyakan karya yang saya tulis itu sifatnya ga bisa di share.

Ada yang kira – kira bisa ngasih masukan buat saya tentang topik apa yang sekiranya menarik untuk di tulis ga ya?

What a Wonder Life

Malam ini mendapat email dari penulis kesayanganku, Andrea Hirata. Email pamitan karena dia harus pindah ke kota lain kemudian pulang ke Indonesia.

Membaca email itu jadi terngiang – ngiang lagi di kuping saya “Aria, setiap pertemuan itu pasti mengandung sebuah rahasia.” ; pertanyaannya, entah apa maksud tuhan yang maha mengetahui segalanya itu mempertemukan saya dengan dia disini, di tempat yang bahkan tidak pernah saya bayangkan dalam impian terliarku sekalipun, di Amerika.

Kakak Andrea, Have a safe trip to Indonesia! Thanks for those wonderful times in Iowa City and Chicago. I hope we can meet again in our beloved country, Indonesia. Sayonara…..

sambil nyanyi :

—— Tanah airku Karangan / Ciptaan : Ibu Sud ——-

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Inti Dari Memenangkan Sebuah Wawancara

Malam ini di saya di tanya oleh seorang rekan, “kak Kojack, intinya biar berhasil dalam wawancara apa sich?” nampaknya dari berbagai kompetisi yang pernah diikutinya, dia banyak mentok di tahap wawancara.

Buat saya, wawancara adalah bagian dari sebuah kompetisi. Banyak orang yang suka dengan wawancara, termasuk saya, tetapi saya pikir lebih banyak orang yang frustasi terhadap wawancara.Kenapa bisa begitu? karena percaya atau tidak, wawancara itu bisa mengakibatkan efek trauma. Jika sudah merasa melakukan hal terbaik tetapi terus – terusan gagal dalam sebuah wawancara dan tidak mengerti kenapa dirinya gagal, maka lama – lama orang jadi krisis kepercayaan diri saat wawancara. Jika berkelanjutan, wawancara bisa menjadi sebuah monster yang memicu sebuah fobia.

Saya pernah merasakan fobia wawancara saat tingkat satu di IPB. Dulu saya di tolak berbagai lembaga kemahasiswaan kampus. Saat itu perasaan saya telah melakukan yang terbaik dengan menjadi diri sendiri tapi entah kenapa saya selalu gagal. Akhirnya saya malas sendiri ikutan seleksi yang ada wawancaranya karena takut kecewa lagi, lagi dan lagi.

Akhirnya saya renungkan dalam – dalam fenomena itu. Sebenarnya apa sich esensi wawancara? sampai pada akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulang bahwa wawancara itu adalah bagian dari marketing, marketing diri sendiri lebih spesifiknya. Karena itu inti memenangkan wawancara sama dengan inti dari marketing yang di rumuskan menjadi:

Supply = Demand

Supply

=

Demand

Simple sekali kan? Yang perlu kamu lakukan hanya mencari titik equilibrium atau diterjemahkan menyediakan sesuatu (suppy) yang sesuai dengan keinginan pewawancara (demand) maka kamu pasti lolos. Nah dalam kasus saya itu, ternyata supply yang saya tawarkan dengan demand yang pewawancara inginkan tidak klop. Mungkin dimata mereka saya terlalu realistis dan yang mereka inginkan adalah orang idealis. Dulu terang – terangan saya bilang kalau saya muak dengan demo, sedangkan yang mereka cari mungkin adalah seorang yang bisa menjadi orator dalam sebuah demo. Ya logislah kalau saya di tendang oleh mereka. :idea:

Pernah juga di wawancara menjadi asisten dosen saya di tolak. Kenapa? karena walaupun saya punya nilai A dalam matakuliah itu dan nilai ujian saya adalah salah satu yang terbaik di kelas, posisi saya saat itu adalah mahasiswa yang baru aktif setelah cuti panjang karena sakit. disamping itu slot yang tersedia cuma satu, sedangkan ada teman saya yang lebih dekat dengan para pewawancara. Jadi, walau nilai dia B dialah yang terpilih. Nah dalam kasus ini penyebabnya bukan supply saya tidak sama dengan demand tetapi mungkin pewawancara menemukan supply dengan opportunity cost yang lebih baik.

Bagaimana menurutmu kawan? simple sekali kan? tapi pada prakteknya teori gampang ini dapat diterjemahkan menjadi berjuta strategi lho. Karena itu, silahkan ajukan pertanyaan2an yang membuat saya terus menulis dan terus simak blog ini ya. :idea:

Gegar Budaya / Culture Shock

Sebenarnya apa sich yang terjadi dengan saya?

Berbanding terbalik dengan rajinnya aktifitas Gunung Merapi belakangan ini, otak saya sekarang malas sekali diajak beraktifitas, hawanya otak ini ingin berhibernasi seperti pohon Maple di depan kamar.

Saat ini boro – boro menyusun rencana – rencana gila seperti mengikuti kompetisi, traveling ke tempat – tempat antah berantah, atau menyusun rencana hidup jangka panjang. Sekedar menulis sebuah artikel bermutu untuk blog saja, lelahnya bukan main. Seolah – olah telah terbentuk kubah magma yang menyelimuti otak saya. Kubah magma itu menyumbat ledakan lava yang bernama kreativitas dan motivasi. Sungguh, hidup saat ini sangat membosankan sekali. :|

Mungkinkah ini bagian dari sebuah culture shock? Saya belum tahu. Ngomong – ngomong, apa itu culture shock?

Dalam bahasa Indonesia fenomena ini diterjemahkan sebagai gegar budaya. Fenomena yang lazim ditemui para perantau yang tinggal di tempat baru dengan budaya baru. Semakin berbeda budayanya, semakin parah efek yang bisa di timbulkan oleh gegar budaya ini.

Yang dimaksud budaya itu apa?

Budaya yang saya maksud disini adalah cara hidup. Didalamnya termasuk nilai – nilai yang di anut, makanan, pakaian, bahasa, bahkan iklim dan cuaca.

Oh iya, harga – harga juga bisa menyebabkan gegar budaya lho. Saya sich menyebutnya shopping shock. Nanti dech saya bahas di postingan yang lain. :)

Apa sich efeknya?

Efeknya bisa macam – macam, mulai dari tekanan psikologis sampai dengan penyakit fisik. Intinya sich, gegar budaya ini merupakan pemicu awal stress. Nah stress ini jika tidak di kelola dengan baik bisa menurun menjadi penyakit fisik seperti jerawat, gangguan pencernaan, pusing, typus sampai liver.

Seberapa jauh saya harus pindah tempat tinggal untuk merasakan gegar budaya?

Ini relatif untuk tiap – tiap individu. Ada yang baru merasakan gegar budaya saat tinggal di negara antah berantah dengan kultur yang sangat berbeda, ada merasakannya dengan tinggal di negara tetangga yang masih se rumpun, ada yang merasakannya saat tinggal di pulau lain di indonesia, bahkan saya kenal beberapa orang yang mengalaminya bahkan hanya karena pergi ke kota lain.

Bagaimana cara menghindari culture shock?

Tidak bisa di hindari, tetapi masih bisa di kelola. Caranya bagaimana? Saya belum tahu. Karena itu saya akan datang ke konferensinya pada tanggal 17 November besok.

Terimakasih membaca tulisan saya dikala suntuk ini, semoga bisa membantu kamu – kamu yang berencana tinggal di tanah rantau.

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.