Sepotong Cerita yang terlewatkan dari Kedai Kopi Menara Hancock


Jika kamu pernah membaca bukunya Andrea Hirata yang judulnya Cinta Dalam Gelas maka kamu pastinya tahu bahwa bagi orang Indonesia, khususnya orang melayu, kopi itu adalah minuman sosial. Rasa dan aromanya bisa berubah – ubah sesuai mood orang yang meminumnya. Teori itu mungkin berlaku bagi orang Indonesia yang suka menghabiskan waktunya berjam – jam di warung kopi untuk menggosip, merenung, meratap atau sekedar berbagi kesulitan hidup dengan sesama. Bagaimana dengan di Amerika?

Di Amerika kopi adalah kebutuhan. Dengan mudah kamu bisa menemui kedai kopi di setiap pusat keramaian baik itu Starbuck, Dankin Donuts atau Caribou. Gilanya kedai – kedai kopi itu tidak pernah sepi. Pagi hari, mulai pagi pagi buta, bahkan saat ayam saja masih malas untuk berkokok kamu sudah bisa menemukan antrian mobil di drive thru kedai kopi. Kebanyakan mereka adalah orang – orang kantoran yang harus menempuh perjalanan jarak jauh atau memang orang – orang yang ditakdirkan untuk bekerja pagi – pagi buta.

Pada dasarnya orang Indonesia dan Amerika sama – sama memandang kopi sebagai bagian dari sebuah gaya hidup popular. Kopi sudah menjadi kebutuhan dimana orang merasa ada yang aneh saat mereka mengawali hari tanpa ngopi. Orang – orang Amerika menyebut para maniak kopi sebagai “Coffee Socialite” atau yang diterjemahkan kebahasa Indonesia menjadi “sosialita kopi”. Anehnya, jika dicermati, makna kopi bagi orang Indonesia dan Amerika itu berbeda. Jika orang Indonesia menganggap kopi atau aktivitas ngopi sebagai wahana sosial, maka orang amerika memandang kopi sebagai semacam doping yang mampu membuat mereka bersemangat. Orang Amerika tidak menganggap secangkir kopi sebagai sebingkai cerita hidup. Karena itu, tidak seperti orang Indonesia, orang Amerika jarang menghabiskan waktu berlama – lama di warung kopi kecuali untuk menghangatkan diri dari rajaman suhu dingin saat winter atau menunggu janji bertemu dengan orang. merka lebih melihat secangkir kopi sebagai secangkir cafein. Karena itu yang kebanyakan orang Amerika lakukan di kedai kopi adalah datang – pesan – bayar – pergi. Beberapa pelanggan khusus seperti pelajar mungkin menghabiskan waktu lebih lama di warung kopi, tapi itu bukan untuk tujuan bersosialisasi, kebanyakan mereka memilih bangku paling pojok yang relative tenang untuk mengerjakan tugas atau belajar.

Dalam opini saya, faktor – faktor itulah yang menyebabkan kenapa konsep drive thru di kedai kopi sangat populer di Amerika tetapi konsep itu tidak begitu survive di Indonesia.

Kojack

 

Leave a Reply

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.