Kojack Diwawancara AMINEF

Teman, tahukah engkau jika sebuah sebuah berita baik yang manis seperti gula sebenarnya adalah awal dari sebuah perjuangan yang berdarah – darah? supaya tidak bingung mari aku contohkan, dulu waktu aku masih di TK nol kecil, saat menulis dan membacapun belum lancar, aku mendapat berita baik dari ayah bahwa aku akan di sunat. Saat itu terbayang bahwa betapa manisnya disunat. bakal ditengok semua orang, bakal dapet kado dari orang tua, bakal dapet salam tempel dari semua orang. Amboi, bahagianya.

Tapi, seperti yang semua anak laki – laki tahu, ternyata berita baik  yang berbunyi “aku akan disunat” dengan segala pernak – perniknya adalah awal dari sebuah penderitaan menanggung rasa perih yang bergumpal – gumpal di selangkangan. Rasa perih yang makin menjadi – jadi saat hari dibukanya perban. :oops: Rasa perih yang membuat para anak laki – laki berikrar bahwa “Saya tidak mau disunat lagi!”

Walaupun tidak seperih dan setraumatis saat disunat, tampaknya pola yang sama akan berlaku pada berita baik wawancara AMINEF. setelah menikmati indahnya euforia bahwa selangkah lagi aku akan ke AMERIKA bersama orang orang tercinta :mrgreen:.  sekarang yang tersisa untukku adalah bertumpuk tumpuk pekerjaan untuk memastikan aku bisa lolos tahap seleksi wawancara, sekaligus menyelaraskan jadwalku agar aku juga bisa menyelesaikan penelitianku.

Buatku, untuk lolos dalam sebuah wawancara, maka aku harus tahu dulu apa yang pewawancara inginkan. Dari situ, maka aku akan bisa membuat strategi apa yang harus aku persiapkan. Memang sich terdengar sangat artificial, tapi inilah aku. Aku mengenali diriku sebagai  orang yang sangat mengandalkan strategi. Ada beberapa temanku yang sama sekali tidak menyiapkan apapun dalam wawancara. Mereka sangat percaya diri dengan insting dan intuisi mereka untuk berpikir cepat di TKP. Filosofi mereka adalah “let it flow“. Nah sayangnya, aku tidak dikaruniai bakat seperti itu. Jika aku mengikuti gaya mereka maka namanya aku menyiksa diri sendiri, karena kemungkinan besar aku akan mempermalukan diriku di depan para pewawancara nantinya.

Kawan, jika engkau mendapatkan kesempatan emas untuk diwawancara dalam seleksi beasiswa maka saranku adalah, jangan pedulikan gaya orang lain. Fokuslah pada gayamu sendiri. :cool:

*****

 

Artikel ini ini saya tulis pada bulan September 2010, pada bulan ketiga saya di Amerika. Setelah dua tahun teronggok sebagai draft di server, akhirnya saya putuskan untuk menghidupkan artikel ini lagi karena saya pikir, untuk kamu yang sedang berdebar –debar menghadapi wawancara, baik untuk beasiswa ataupun bukan. Artikel ini akan berguna.

 

2 comments

  1. nadiafriza says:

    i rarely prepared myself. cos when im full prepared, that's when im gonna loose the interview. :)

Leave a Reply

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.