CBR 150 – Review Bulan Pertama

Liberty

Pertama kali mengendarai Liberty terasa aneh. Maklum, sebelumnya setiap hari saya ditemani Yamaha Mio dalam menaklukan rimba ibu kota. Membandingkan CBR 150 dengan sebuah Yamaha Mio tentunya tidak adil. Tapi bagaimana lagi, hanya itu motor yang saya punya. Jadi tidak apa – apalah ya.

Hal pertama yang bikin kaget dari Liberty adalah dimensinya. Tentu saja dimensinya yang lebih panjang dari mio membuat saya gelagapan karena otomatis manuver Liberty tidak selincah si Mio, terutama dalam melibas kemacetan atau jalan tikus yang berupa gang – gang sempit.

Kejutan lain adalah posisi mengendarainya dan tinggi motor ini. Dengan postur tinggi saya yang 170 cm, jika menggunakan Mio saya bisa menapakan kedua kaki dengan mantap setiap motor berhenti; Mengendarai Liberty saya harus sedikit jinjit. Dan, tentu saja faktor jinjit mengurangi tingkat keseimbangan saya dalam berkendara.

Selain kedua kejutan kurang menyenangkan diatas, ada juga kejutan menyenangkan yang diberikan oleh Liberty. Karakter mesin hi rev nya membuat nafas motor ini panjang – panjang, akselerasinya juga smooth tetapi tetap bisa dibawa kencang, cocok untuk dengan karakter saya di jalan yang cenderung defensif dalam berkendara.

Mio dan CBR

Untuk konsumsi bahan bakarnya, Liberty ini termasuk irit. Dalam kondisi standar rasio konsumsi bahan bakarnya berkisar 1:40-50 tergantung medan dan metode mengurut gas :D.

Penggunaan teknologi injeksi yang disematkan untuk menggantikan karburator benar – benar menunjukan kedigdayaannya dalam hal efisiensi. Sehari – hari, Liberty biasa menenggak Shell super oktan 92.

 

Kenapa bukan Pertamax? »

Kenapa bukan Pertamax? Bukan – bukan, bukannya saya tidak nasionalis, atau mau gaya gayaan pake produk luar. Alasan saya simple saja, pom bensin sepanjang rute jalan berangkat dan pulang bekerja sehari hari tidak menyediakan antrian khusus motor yang mau membeli pertamax. Artinya adalah saya harus antri mengular bersama motor – motor yang lain dan biasanya pulang kantor saya sudah malas ikut antri mengular maka saya lebih suka mengisi bensin di SPBU Shell karena disana tidak perlu mengantri sampai mengular.

Sebagai penutup, kejutan yang paling menyenangkan dari Liberty dan paling saya sukai adalah kestabilannya. Berbeda dengan Mio yang keamanannya selalu bikin jantung serasa mau copot setiap dipaksa mengerem mendadak pada kecepatan 60 km/jam atau lebih, Liberty ini stabil sekali. Dipaksa melakukan pengereman mendadak dari kecepatan lebih dari 80 km/jam saya asik – asik saja.

 

Perawatan
Satu bulan pertama sejak di pinang, perawatan yang saya berikan ke Liberty hanya sebatas penggantian oli menggunakan Motul Ester 5100.

Motul 5100

9 comments

  1. ikyrizki says:

    top speednya berapa gan? :D

    http://ikyrizki.student.ipb.ac.id/

  2. Andi says:

    Agan Kojack,
    Masak sih tinggi 170cm sedikit jinjit? Seriusan gak bisa napak rata persis?

  3. dedy says:

    out of the topic ya..mo ty nih…emang di cibi 150 tankinya beda ya ma cibi 250?koq klo liat gambar cibi 250 kesan tankinya lebih panjang dan garisnya tajam…betul ga sih..thx ya

    • Kojack says:

      sama kok bro,
      ane pernah bandingin pas di pameran.
      Cebeer 150 ama 250 di sebelahin sama persis bentuk tangkinya.
      Mungkin karena efek warna. 250 kan warnanya lebih glossy gitu.

  4. syhrain says:

    motor impian neh.. :) mantap gan cbr nya !
    ini bukan wordpress ataupun blogspot ya gan?

Leave a Reply to Andi Cancel reply

Copy Protected by Tech Tips's CopyProtect Wordpress Blogs.